Catatan Pendek: Definisi Sendiri




Aku masih sendiri. Dan terkadang definisi dari kata sendiri itu membuatku tampak kecil di antara jutaan manusia yang sudah memiliki pasangan atau teman hidup. Padahal sendiri tidak selamanya buruk, aku bisa fokus bekerja dan menggapai mimpi tanpa terganggu dengan prioritas membahagiakan orang lain. Namun, realitas yang kuhadapi berbanding terbalik dengan definisi sendiri yang aku ciptakan. Bapak, mamak, bahkan mbak tidak pernah sependapat bahwa sendiri dapat menghadirkan bahagia.
Benar saja, beberapa pekan yang lalu, mbak tiba-tiba berbaik hati mengajakku jalan. Padahal sebelumnya setiap kali aku pulang dari Bandung, dia selalu mengabaikanku dan sibuk dengan aktivitas pribadi; pergi dengan teman-teman dan pacar. Tetapi kali ini berbeda, dia benar-benar mengajakku pergi ke suatu tempat yang disebut coffee shop. Aku mendesah, hanya sebuah coffee shop kecil di sudut kota, dan sepi.
Entah, apa yang sedang kami lakukan di tempat ini, selain duduk berhadapan di meja bundar dengan tiga kursi dan menyeruput secangkir kopi hangat yang rasanya tidak jauh berbeda dengan kopi seduh yang biasa aku beli di warung dekat rumah. Benar-benar hanya menghabiskan jatah uang liburanku saja.
Namun tidak lama kemudian, seorang laki-laki tampak menghampiri kami. Dia asyik menyapa mbak dan mengobrol pendek. Dan, seperti sudah menjadi tabiat pura-pura baik dari mbak, dia lantas mengenalkan lelaki itu padaku. Aku gegas berdiri, membetulkan setelan bajuku, lalu mengulurkan sebelah tangan—berlagak pura-pura baik juga demi image mbak.
“Kareena,” kataku.
“Andra, teman kuliah Mbakmu dulu,” katanya.
Aku membulatkan mulut selebar huruf o kecil. Ternyata hanya seorang teman, aku pikir mereka memiliki hubungan khusus, seperti pasangan, gumamku. Kami lantas duduk memutar. Dan, aku baru menyadari bahwa satu kursi kosong itu memang sudah dikhususkan untuk lelaki di sampingku ini. Tetapi, kenapa mbak tidak bicara apapun sebelumnya?
***
Sampai di rumah, kami bertengkar. Apalagi bila bukan meributkan tentang harga secangkir kopi di coffee shop yang tidak murah. Aku pikir mbak akan memasang tampang pura-pura baik itu sampai ke kasir, ternyata tidak. Dan, kini uangku raib. Sebagai gantinya, dia memberikanku uang tiga ribu rupiah untuk membeli Luwak White Coffee di warung.
Selepas kejadian buruk sore itu, aku segera mengurung diri di kamar. Asyik menyeruput kopi seduh yang tidak kalah nikmat dengan secangkir kopi di coffee shop sembari membaca novel karangan A. Fuadi yang belum selesai juga. Namun, tidak lama ponsel di atas ranjangku berdering, sebuah notif yang mana berisi satu DM dari akun Instagram @andr.put, siapa dia?
Aku segera membuka DM darinya, dan itu hanya sebuah pesan kecil yang berisi sapaan. Lagi-lagi hanya pesan biasa yang selalu aku terima dari beberapa akun. Aku malas menanggapi pesan tidak penting seperti itu. Namun, sebelum aku benar-benar kembali beraktivitas, pesan berikutnya muncul. Apalagi bila bukan memperkenalkan diri, hanya saja yang tidak aku mengerti; mengapa dia sampai menyapaku?
@andr.put: Hay, Reen?
@andr.put: Ini aku, Andra. Masih ingat?
***
Satu minggu setelah aktif berbalas pesan dengan Andra, hidupku terasa jauh lebih baik. Seperti kapas, terasa ringan, melayang-layang, dan sangat menyenangkan. Tidak butuh waktu lama untuk dekat dan mengetahui banyak hal tentang lelaki itu, bagaimana tidak? Aku sepanjang hari asyik memberondong mbak dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya sangat tidak penting, seperti warna, makanan, minuman kesukaan Andra, tanggal lahirnya, serta jam berapa Andra biasa tidur.
“Sinting, ya?!” pekik mbak ketika mendengar pertanyaanku.
“Tolong, dong, kali ini aja. Pelit banget, sih,” kataku.
“Dia mandi dua kali.”
Dan, tentunya masih banyak lagi. Terkadang mbak sangat kesal melihat tingkahku yang tiada habisnya memberondong dia dengan ratusan pertanyaan, tetapi ada kalanya dia sangat baik tanpa aku minta. Mungkin saja, dia benar-benar senang bila melihatku sebahagia ini bersama teman masa kuliahnya. Dan yang terpenting, mempertemukan aku dengan Andra bukanlah suatu hal yang perlu dia sesali.
Namun, semenjak masa liburku habis dan aku kembali ke Bandung, pertemuanku dengan Andra semakin jarang. Hanya beberapa kali berbalas pesan yang semakin lama semakin terasa hambar, tidak menarik, dan tidak bebas. Kemungkinan, karena aku yang terlalu sibuk hingga terlalu sering mengabaikan pesan singkatnya. Semoga saja, permasalahannya ada pada diriku, bukan Andra. Karena, aku tidak ingin kehilangan dia.
***
Satu tahun setelah kami dekat, kami memutuskan untuk bertukan nomor. Hubungan kami masih sama seperti pertama kali bertemu; hanya teman tanpa embel-embel berbau mesra apapun. Namun, semakin lama hubungan pertemanan kami semakin terasa biasa saja. Dia jarang membalas pesanku, dan bila membalas pun tidak pernah menghadirkan percakapan menarik lainnya.
Padahal aku pikir sebelumnya, kami memiliki satu perasaan yang sama. Saling sayang. Hanya saja memutuskan tetap sendiri, dan fokus mengejar mimpi masing-masing, hingga pada akhirnya Allah menyatukan perasaan kami pada lingkup pernikahan. Namun, sepertinya aku terlalu berharap banyak. Karena, realitas yang terjadi ialah kami tetap bukan siapa-siapa selain seorang teman. Cukup. Tanpa saling sayang dan tanpa keinginan untuk menata masa depan berdua, bersama.
“Maaf, Reen,” katanya.
“Untuk?”
“Aku mungkin saja membuatmu bingung, seperti halnya aku yang bingung ketika kamu pertama kali hadir dan menyentuh pedalaman hatiku yang sedang rapuh. Aku pikir itu adalah rasa sayang yang hadir secara perlahan, namun semakin lama aku semakin sadar, bahwa aku masih belum bisa melupakan dia. Aku masih sayang dia, Reen,” lanjutnya.
Kakiku melemas, jantungku melemah, dan air mataku menitik. Inikah yang disebut patah hati? Sebuah rasa yang awalnya begitu bahagia seperti terbang ke angkasa, lalu menjadi begitu perih ketika pada akhirnya diri menyadari telah jatuh dan terluka lebih dari satu kali. Jadi, sesakit inikah patah hati yang mereka maksud?
“Reen? Maaf,” katanya.
Seandainya memaafkan seseorang itu semudah pertama kali jatuh cinta, aku akan memaafkan dia jauh sebelum dia berucap maaf dan menyesali segala tingkah konyolnya. Tetapi, memaafkan setelah terluka? Aku pikir itu tidak akan mudah, selain mencoba menghapusnya pelan-pelan dari ruang ingatan.
Lalu, seandainya kala itu aku menolak ajakan mbak untuk pergi berdua, cinta, sayang, luka, dan perih ini tidak akan pernah hadir. Namun, Allah tidak suka pada hambanya yang senang berandai-andai. Karena itu, aku memutuskan untuk menikmati luka ini sendirian. Seperti definisi sendiri yang aku ciptakan sebelumnya; sendiri menghadirkan bahagia.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pendek: Radio

Sulli Eks f(x) Bunuh Diri, ini 3 Prestasinya yang Gugur dari Ingatan Netizen

Catatan Pendek: Kapten Alit