Catatan Pendek: Es Cendol




Satu bulan yang lalu, di kampung kedatangan warga baru yang kebetulan mengontrak tidak jauh dari rumah kami. Mereka adalah bujang-bujang lapuk penjual es cendol keliling dari luar kota yang sengaja mengadu nasib di sini. Seperti biasa, emak segera membuat kue bolu dan mengantarnya ke kontrakan sebagai tanda salam santun terhadap tetangga baru.
Namun, siang ini berbeda. Perubahan cuaca yang tidak menentu dari hujan ke panas kerap kali membuat kami betah berlama-lama duduk di pelataran rumah yang rindang sembari menyeruput segarnya es cendol. Tidak hanya es cendol yang menjadi hidangan pelepas lelah siang ini, tetapi ada juga pisang goreng yang sengaja emak buat sebagai teman minum.
“Neng?” Bapak membuka suara setelah sesuap ketimus mendarat di mulutnya.
Aku menaikkan muka, serius.
“Kenal dengan Juki, lelaki dari kampung sebelah itu?” lanjut bapak.
Aku mengangguk santai, siapa gadis kampung ini yang tidak mengenal Juki? Lelaki itu adalah anak saudagar kaya dari kampung sebelah yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Jakarta, namun selama tujuh tahun belum dinyatakan lulus juga.
“Bapak sama Emakmu ini berencana menjodohkanmu dengan si Juki atuh, Neng. Kalau dilihat-lihat, Si Juki itu ‘kan lelaki yang cerdas juga ulet, cocok sekali menjadi suamimu kelak,” kata bapak, lantas kembali menelan ketimusnya entah sudah kali ke berapa.
Aku membulatkan mata, terkejut. Lantas sorot mataku beralih pada emak yang sedang menikmati sisa-sisa cendol di dasar gelas. Emak sama sekali tidak menunjukkan air muka serius, tampaknya beliau sudah mengetahui perjodohan ini dari jauh-jauh hari dan tidak mempermasalahkannya sama sekali.
“Turuti sajalah ucapan Bapakmu itu, Neng. Juki mah bagus untuk masa depanmu, dari pada siapa itu namanya, laki-laki yang hanya bisa mengajakmu jalan-jalan ke pasar malam hanya untuk naik komidi putar,” celetuk emak sembari masih sibuk menjilati sendoknya.
Aku meletakkan gelasku, es cendol yang tinggal setengah gelas itu sengaja tidak aku habiskan. Ucapan bapak dan emak siang ini—yang terdengar sangat kompak—lekas menghancurkan suasana hatiku. Bukan aku tidak ingin menikah, tetapi Juki bukan lelaki yang aku inginkan. Perempuan mana yang mau dinikahi bujang lapuk seperti dia, bahkan kuliahnya tidak pernah usai juga. Dia semakin lapuk saja di mata orang-orang, bahkan di kedua mataku. Lantas, bapak dan emak sependapat untuk menjodohkanku dengan dia?
Aku segera melenggang ke kamar. Meninggalkan es cendol dan sepiring pisang goreng yang tidak lagi nikmat. Sudah cukup emak merendahkan Kang Ujang, lelaki pekerja keras yang bahkan sedang menabung untuk memberangkatkan ummi dan abahnya ke tanah suci, menunaikan ibadah haji.
***
Satu pekan pasca obrolan panjang perihal perjodohanku dengan Juki, lelaki itu tampaknya tergesa-gesa pulang dari Jakarta, lantas menemuiku di rumah bersama dengan kedua orang tuanya. Aku asyik saja bersembunyi di dalam kamar dan enggan membuka pintu. Emak beberapa kali berbisik agar aku menemui tamu agung di pelataran rumah, tetapi aku bergeming lama, berpura-pura tidur atau mati tanpa sepengetahuan mereka.
“Neng, Juki sudah datang membawa martabak kesukaanmu atuh,” kata emak menggoda.
Tetapi, aku tidak kunjung bersuara, dan memilih mengirim pesan singkat pada Kang Ujang agar sabtu malam nanti tidak perlu menjemputku di pelataran rumah, ada baiknya bila kami bertemu di gapura kampung dan menaiki sepeda berdua menuju pasar malam.
***
Beberapa hari kemudian, bapak mengamuk di dapur, beliau membanting apa saja yang tertangkap oleh kedua bola matanya, termasuk gelas souvenir pernikahan Teh Aisyah tiga bulan yang lalu. Padahal itu satu-satunya souvenir terbaik yang pernah aku dapatkan dari gadis di kampung ini yang telah resmi melepas masa lajangnya. Sebab, tidak banyak gadis kampung kami yang menikah dengan membagikan souvenir kepada tamu undangan, ada makanan yang dapat disajikan kepada tamu pun sudah menjadi rasa syukur yang teramat besar.
Teh Aisyah sendiri adalah anak saudagar kaya di kampungku, kawan ngajiku jaman dulu. Dia dinikahi oleh pemuda Jakarta yang kebetulan satu universitas dengannya. Kadang, kami masih sempat berbincang panjang ketika menghadiri kajian yang sama di mushala atau masjid sekitar kampung.
“Ada apa, Pak?” teriakku dari seberang.
Dapur kami tampak kacau, tidak hanya gelas souvenir pemberian Teh Aisyah, tetapi pecahan piring beserta mangkok pun ikut berserakan di lantai. Aku mundur selangkah, takut terkena amukan bapak yang kadang tidak bisa dikendalikan. Beliau lantas menatapku sendu sembari mengusap kedua matanya.
“Emakmu, Neng, dia asyik main mata dengan tukang cendol itu!” jawab bapak.
Aku membulatkan mulut, kabar ini jelas jauh lebih mengejutkan dari kabar sebelumnya perihal aku yang akan dijodohkan dengan Si Juki itu. Lantas, atas dasar apa emak mendekati bujang-bujang lapuk itu? Bahkan usianya sudah tidak pantas untuk bersolek di depan lelaki mana pun.
“Pak, cobalah dengarkan penjelasan Emak dulu atuh,” kataku meredakan amarah bapak yang kian membludak. “Mungkin ada kesalahpahaman di sini, tenang dulu, yaa, Pak.”
Bapak segera mengambil napas satu-satu, lantas memunguti pecahan piring, mangkok, dan kawan-kawannya yang berserakan di lantai. Aku mendekat, walau ada sedikit ketakutan. Lantas, membantu bapak memunguti beling itu dan membuangnya ke tempat sampah.
***
Malamnya, aku mendapati emak sedang menonton siaran televisi di ruang tengah sembari menyeruput es cendol. Entah, apakah es cendol itu masih layak diminum malam-malam seperti ini ketika produksinya dimulai pukul enam pagi?
Aku segera mendekat dan menanyakan alasan yang sebenarnya perihal emak yang senang mengunjungi kontrakan bujang-bujang lapuk penjual es cendol itu. Lantas, emak mengecilkan suara televisi dan menatapku dengan sorot mata yang tajam.
“Emak ini nggak main mata atuh, Neng, demi Allah,” tuturnya.
“Terus apa atuh, Mak?” aku semakin penasaran saja.
“Emak itu lagi tanya-tanya, kira-kira kalau nyewa es cendol untuk nikahanmu itu habis duit berapa? Emak ‘kan juga ingin warga sekampung bisa menikmati es cendol yang nikmat ini ketika nikahanmu, Neng,” jawab emak santai, sekaligus menyeruput es cendolnya.
Dan, tibalah aku untuk mencari-cari sosok bapak yang ternyata sedang asyik menghisap rokoknya di pelataran rumah. Aku ingin malam ini semua kesalahpahaman antara bapak dan emak selesai, bapak harus tahu alasan mengapa emak senang mengunjungi kontrakan bujang-bujang lapuk penjual es cendol akhir-akhir ini.
Tetapi, ternyata semuanya di luar dugaanku. Bapak sama sekali tidak mempercayai ucapan emak, beliau mengatakan bila emak sudah membuatnya malu setengah mati sekaligus kecewa karena telah dihianati.
Aku sendiri mati kutu, karena tidak bisa menjadi penengah di antara perdebatan mereka yang sama sekali tidak ingin berbaikan. Lantas, aku semalam suntuk memutuskan untuk tidak tidur, dan mencari jalan keluarnya. Sungguh, melihat bapak dan emak bertengkar sangat tidak nikmat. Ditambah lagi usia mereka yang tidak lagi muda.
Aku memejamkan mata barang sebentar. Tiba-tiba, aku menemukan sebuah ide luar biasa agar bapak dan emak tidak akan memperpanjang masalah ini lagi. Ya, aku pasti bisa melakukannya, walau ini bukanlah pilihan terbaik, tetapi aku benar-benar ingin bapak dan emak berbaikan. Jadi, aku harus melakukannya.
***
 Beberapa bulan kemudian, halaman rumah kami riuh oleh warga satu kampung. Mereka asyik menyeruput es cendol sembari melihat penampilan penyanyi dangdut yang bergoyang di atas panggung. Bapak dan emak tampak mengembang senyum bahagia. Aku menghela napas panjang, akhirnya misiku untuk membuat hubungan bapak dan emak kembali harmonis berhasil juga.
Kali ini, aku tinggal memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa tetap pergi ke pasar malam untuk menaiki komidi putar berdua dengan Kang Ujang di kala aku telah bersanding di pelaminan dengan Si Juki yang bodoh ini. Mungkinkah aku harus menjeburkannya ke sumur ketika malam pertama nanti?
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pendek: Radio

Sulli Eks f(x) Bunuh Diri, ini 3 Prestasinya yang Gugur dari Ingatan Netizen

Catatan Pendek: Kapten Alit