Catatan Pendek: Isyarat Putri Geledek
1998
Putri
Geledek. Di sinilah aku tinggal; langit. Aku hadir di kala langit mulai
menggelap dan awan seperti tidak lagi mampu menampung miliaran tetes air. Aku
diciptakan sebagai pertanda akan jatuhnya air langit ke bumi, menjamah
rerumputan dan pepohonan rindang di sana, juga rumah-rumah kayu dan bocah-bocah
kecil yang gemar bermain bola di tengah halaman.
Awal
ceritaku sama sekali tidak menarik untuk diikuti, tentu saja sebelum aku
mengenal manusia bumi bernama Asri. Dia adalah sosok manusia yang baik, senang
membantu banyak orang, ramah, dan juga pandai merawat tanaman.
Suatu
sore ketika langit benar-benar menghitam, aku memberi pertanda pada manusia
bumi, bahwa sebentar lagi miliaran air langit akan jatuh. Pada hari itulah aku
bertemu Asri, dia berjongkok di bawah pohon mangga seraya menutup kedua
telinganya. Ketakutan. Samar-samar, aku mendapati air matanya menitik bersamaan
dengan derasnya air langit yang membumi. Bahunya bergetar hebat, sedang aku
terdiam panjang.
Tidak
lama, seorang wanita paruh baya mendekap Asri yang mulai basah, lantas
membawanya masuk ke dalam rumah kayu. Samar-samar, aku melihat Asri dari balik
jendela sedang dibaringkan di atas tempat tidur. Bahunya masih bergetar, menandakan
bahwa dia benar-benar merasa sangat ketakutan.
Air
mataku menitik. Mungkinkah dia takut dengan suara yang aku timbulkan? Bila benar
adanya, aku mungkin saja diciptakan sebagai pertanda jahat dan tidak memiliki
manfaat apapun bagi manusia bumi, selain membuat mereka merasa sedang dalam
marabahaya yang pada akhirnya menimbulkan rasa takut yang tidak berkesudahan.
***
Waktu
terus berputar cepat, dan aku merasa tidak baik-baik saja. Setelah bertemu Asri
dan mengetahui sebuah fakta bahwa aku adalah pertanda jahat bagi manusia bumi, pada
saat itulah aku telah mati. Ketika langit mulai menghitam, aku tidak pernah
lagi hadir untuk memberikan pertanda, namun awan tetap memenuhi tugasnya untuk
menjatuhkan miliaran tetes air ke bumi.
Dengan
ini, aku berharap banyak hal bahwa Asri akan senantiasa membaik dan dapat
kembali bermain bola di tengah halaman bersama teman-temannya. Namun, satu hal
yang tidak pernah aku ketahui ialah ketika aku memutuskan untuk berhenti
memberikan pertanda kepada manusia bumi, pada saat itulah aku telah berhenti
selamanya. Tidak lagi mampu melihat aktivitas manusia-manusia bumi dan tidak
lagi mampu melihat sosok Asri. Tubuhku kian melemah, energiku terus menemui
titik penghabisan.
***
2018
Aku
terpejam lama. Sebelumnya, aku sempat berpikir bahwa mungkin saja aku telah
mati, karena energiku benar-benar habis. Namun, sebuah suara sukses
membangunkanku dari tidur panjang ini. Aku mengerjapkan mata barang sebentar,
lantas aku mendapati langit semakin menghitam, namun awan sama sekali tidak merespon
karena mereka asyik tertidur.
Gawat!
Aku
segera mengamati aktivitas bumi dan mendapati manusia-manusia bumi tengah
gaduh. Mereka beramai-ramai berdiri di lapangan dan menaikkan kepalanya untuk
melihat kapan kemungkinan hujan akan menjamah bumi. Aku gemetar hebat, bimbang.
Satu-satunya cara agar para awan bangun dari tidurnya ialah dengan mengeluarkan
suara dahsyatku. Namun, aku khawatir Asri akan sakit lagi dan memutuskan untuk
berbaring di atas ranjang selamanya. Aku sangat mencintai Asri, karena itu aku
tidak ingin melihat dia melemah dan tidak bisa lagi bermain bola di tengah
lapangan. Aku berharap Asri sehat selamanya.
Tetapi,
bagaimana caraku untuk membangunkan para awan? Bila mereka tidak segera bangun,
langit akan menghitam selamanya, dan manusia-manusia bumi akan merasa gelisah
seumur hidupnya. Sebab, langit tidak pernah lagi memberikan isyarat yang pasti.
Aku
menghela napas panjang. Air mataku menitik berkali-kali, aku benar-benar sangat
bimbang. Namun, di tengah kebimbangan itu tiba-tiba saja energiku kembali
penuh. Aku membulatkan bola mata, lantas bertutur perlahan; Demi bumi,
manusia-manusia, rerumputan, pepohonan, para awan yang tertidur, dan juga Asri.
Aku berharap dapat melakukannya hari ini!
Gegas
aku membuka mulut lebar-lebar, dan suaraku bergema di seluruh bumi. Para awan
terbangun, lantas mereka segera melaksanakan tugasnya. Yakni, menjatuhkan
miliaran tetes air langit. Akhirnya, gumamku. Aku mengembangkan senyum,
namun di balik kebahagiaan itu ada miliaran air mata yang sulit aku seka. Dan
pagi itu, hujan benar-benar deras membasahi bumi. Seluruh penghuni bumi
bergembira, mereka menari-nari di halaman. Dari banyaknya manusia-manusia bumi
yang bersuka cita di sana, aku mendapati seseorang yang tidak pernah hilang
dari ingatan. Sosok lelaki yang pernah sekali berjongkok di bawah pohon mangga
seraya menutup kedua telinganya rapat-rapat. Dia adalah Asri, seseorang yang
tengah menengadah padaku seraya tersenyum.
“Terima
kasih,” tuturnya lembut.
***

Komentar
Posting Komentar