Catatan Pendek: Kehilangan



Aku pernah mengenal seorang wanita dalam hidupku. Dia berbeda dari wanita-wanita lain yang pernah singgah di pedalaman hati. Bagaimana tidak? Wanita satu itu tak ubahnya panorama indah di kala senja, selain menghangatkan pun dapat membuat siapa saja enggan beranjak pergi. Seperti aku kala itu.
Seperti tidak pernah hilang dari ingatan, aku seakan ingat warna baju yang dia pakai kala itu serta aroma tubuhnya yang wangi bagaikan ladang dendelion. Benar, kala itu dia datang di pesta ulang tahunku. Meramaikan sebuah pesta kecil di halaman rumah baru. Dia tidak hanya singgah lalu pergi begitu saja, dulu kami sempat menghabiskan waktu berdua di dapur untuk membuat kue ulang tahun.
Lagi dan lagi, aku seperti bisa mengingat setiap rasa dari gigitan kue buatannya. Manis dan lembut, lidahku seperti kembali dimainkan oleh rasa yang tidak pernah hilang itu. Aku berhenti berjalan barang sebentar, lamunan tentang dia pun sekelebat pergi begitu saja. Aku melihat sebuah toko roti yang menyajikan kue tart di etalase toko. Tiba-tiba, aku ingin makan itu di rumah. Lagi pula, hari ini adalah hari ulang tahunku.
***
Aku berhasil membawa pulang satu kue tart. Harga kue tart itu lumayan mahal untuk ukuran sedang, dan sepertinya aku tidak akan mampu menghabiskan kue tart itu seorang diri. Sungguh mengenaskan nasibku ini, untung saja ayah tidak menyaksikan rona kehidupanku saat ini. Jika iya, beliau pasti akan mengatakan hal yang sama berulang kali, apalagi bila bukan memintaku mencari teman hidup untuk mengisi kekosonganku selama ini? Benar kata ayah, hidup melajang selamanya tidak akan baik untukku.
Aku berhenti melangkah. Seorang tunawisma yang sedang meringkuk di depan rumahku cukup membuat aku terkejut. Tunawisma itu tampaknya adalah seorang wanita, dan seperti tidak ada lagi tenaga untuk melanjutkan perjalanan yang entah akan ke mana. Aku kasihan, tetapi tidak mungkin juga membawanya masuk ke dalam rumah untuk menemaniku menghabiskan kue tart. Ironis.
Lalu, aku meninggalkannya begitu saja.
Untuk sedikit menghilangkan rasa bersalah, aku memutuskan untuk memutar musik bernuansa jaz. Lalu, segera membuka bungkus kue tart dan memotong kue itu kecil-kecil. Suapan pertama benar-benar menggoyang lidahku, seakan membuatku kembali ke masa silam. Masa ketika aku dan wanita itu masih bersama.
Selepas pesta ulang tahunku kala itu, aku melihat dia melahap satu per satu potongan kue di dapur seorang diri. Benar-benar tanpa ditemani yang lain, sungguh. Aku lantas mendekat dan menyentuh jemarinya. Dia menatapku lembut.
“Kenapa Ibu memisahkan kue dengan krimnya?” tanyaku kala itu.
“Kue ini sudah cukup manis, Sayang,” jawabnya.
Bodohnya aku kala itu. Dia pasti tidak suka manis, karena itu dia memisahkan kue dengan krimnya. Mengapa aku baru menyadari hal sesederhana itu, ketika aku memakan kue tart ini seorang diri? Sungguh, makan beberapa suap saja bisa membuatku terkena diabetes. Aku tidak ingin menghabiskannya lagi.
Air mataku menitik. Kue tart dan irama musik jaz sepertinya adalah perpaduan yang pas untuk pasangan yang sedang kasmaran, tetapi ini tidak begitu mengasyikkan untuk lelaki lajang sepertiku. Keduanya sungguh berhasil menguras emosi, aku terus saja mengingat wanita itu tanpa bisa mengingat wajah cantiknya. Itu benar-benar menyesakkan.
***
“Dunhil?” lelaki tua itu mengulang ucapanku.
“Ya, Dunhil. Satu bungkus,” jawabku lemah.
Aku tidak suka merokok. Ketika yang lain asyik mengeluarkan kocek besar untuk membeli satu bungkus rokok, aku memilih menyimpannya untuk beberapa alasan. Lagi pula, rokok itu sangat tidak baik bagi kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang. Aku sangat tahu perihal itu, tetapi aku kali ini ingin menghisapnya. Hanya kali ini saja, sungguh. Galang—teman baikku—pernah mengatakan, bahwa rokok bisa menghilangkan stress. Karena itu, aku ingin mencobanya sekali saja. Aku benar-benar ingin menghilangkan bayang-bayang wanita itu. Bagaimana pun, rindu ini tidak akan pernah berlabuh.
***
Aku menyentuh gerbang rumah, namun tidak juga membukanya. Bola mataku justru berputar ke arah samping, mencari sosok tunawisma yang pagi tadi duduk di depan rumahku. Tunawisma itu sudah tidak ada di sana, mungkin saja lelahnya telah hilang, lalu dia memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Entahlah, setidaknya aku sudah tidak mengkhawatirkannya lagi.
Lantas, aku segera masuk ke dalam rumah. Membuka bungkus rokok itu cepat-cepat, menyalakan korek api, menyulut satu batang rokok itu dengan api, dan menghisapnya perlahan. Pelan-pelan hingga aku benar-benar merasakan artinya ketenangan.
Tetapi, lagi lagi aku teringat akan wanita itu. Dulu, dia tiba-tiba saja menutup hidungku dengan sebelah tangannya, ketika kakek ketahuan sedang menghisap cerutunya. Wanita itu marah-marah dan meminta kakek memadamkan cerutu itu segera. Bila tidak dilakukan juga, dia akan segera membawaku pergi ke ladang yang tidak jauh dari rumah. Benar-benar jauh agar aroma cerutu itu tidak lagi terjamah oleh hidungku.
“Ada apa, Bu?” tanyaku kala itu.
“Tidak apa-apa, Sayang. Ibu hanya tidak ingin kamu menghirup cerutu itu. Bukankah kita akan pergi ke pantai besok pagi? Ibu ingin besok kamu bisa menghirup udara segar dengan bebas. Mengerti?” jawabnya.
Aku segera memadamkan rokok itu dan membuang sisanya ke dalam tempat sampah. Aku berjanji tidak akan mengulangi itu untuk kali kedua, paru-paruku bisa rusak, dan bila hal itu sampai terjadi, aku tidak akan bisa menghirup udara bebas seperti sedia kala.
“Bukankah kita akan pergi ke pantai besok pagi?”
Aku mengangguk seraya menitikkan air mata. Aku rindu pantai, sungguh. Ingin rasanya bisa ke sana lagi. Berlarian di atas pasir, bermain air, atau sekadar menikmati udara segar di sana. Aku menilik arlojiku, pukul 16.00 WIB. Setidaknya masih ada waktu untuk menikmati udara sampai senja nanti. Ya, aku harus ke pantai sekarang.
***
Langit setidaknya masih belum menggelap, hanya beberapa magenta tampak menyebar di permukaan langit. Matahari pun belum menyentuh ujung lautan, aku masih memiliki banyak waktu untuk bercengkrama dengan pasir, air, dan udara. Serta mengingat kembali setiap bahagia yang pernah terukir di sini bersama wanita itu.
“Bu, kenapa kita harus melepas sepatunya?” tanyaku kala itu.
“Sayang, kalau kamu ingin lebih dekat dengan alam, kamu harus menerima alam apa adanya. Jangan takut kotor ataupun takut basah, dengan begitu kamu akan merasa nyaman dan bahagia,” jawabnya.
Aku melepas sepasang sepatuku. Riak ombak asyik menyentuh ujung jemari kakiku. Memang terasa sangat dingin, tetapi mengasyikkan. Aku juga dapat melihat beberapa burung camar asyik berterbangan di atas lautan. Mereka mungkin saja akan pergi jauh, seperti wanita itu. Dia pergi jauh, dan sekarang pun tidak pernah kembali.
Aku benar-benar tidak ingin menitikkan air mata lagi, cukup, hari ini jangan lagi. Ini adalah senja yang sangat membahagiakan. Aku tidak ingin menghabiskannya dengan air mata, karena mungkin saja selamanya aku hanya bisa mengingat hari ini sama seperti lima belas tahun silam, hari yang penuh dengan luka, air mata, dan kehilangan.
Aku menaikkan wajah. Tiba-tiba saja, aku mendapati seorang wanita tua berdiri dekat sekali dengan air. Entahlah, aku tidak ingin berprasangka buruk. Mungkin saja dia seperti aku, ingin melepaskan segala kesakitan yang memenjara selama ini. Lantas, aku memutuskan untuk pergi; pulang ke rumah dan memulai awal yang baru tanpa bayang-bayang wanita itu.
Sebelum benar-benar menghidupkan mesin mobil, telepon pintarku berderit, telepon dari ayah. Entah mengapa, beliau meneleponku mendadak seperti ini. Apabila ada hal penting yang ingin beliau sampaikan padaku, biasanya beliau akan datang ke rumah dan berbicara empat mata. Namun, sekarang?
“Hal-?“
“Ibu. Ibumu. Dia kabur dari rumah sakit. Demensianya sudah semakin parah. Ayah takut terjadi hal buruk dengan Ibumu. Tolong, cari dia- ...”
Telepon pintarku terlepas dari genggaman begitu saja. Air mataku seketika menitik. Entah, sudah berapa belas tahun aku tidak bertemu dengan wanita itu, mungkinkah sekitar lima belas tahun? Lalu, mengapa kenyataan terpahit adalah aku harus mengetahui bahwa dia tidak benar-benar pergi meninggalkanku, melainkan terkena demensia dan kini entah pergi ke mana. Shit! Ayah seperti apa yang tega menutupi itu semua padaku?
Tiba-tiba, isakku terhenti. Aku teringat akan tunawisma yang beberapa kali aku lihat berada di sekitar rumahku. Dan bila intuisiku tidak salah, bukankah wanita tua di tepi pantai itu adalah tunawisma yang pagi tadi berada di depan rumahku?
Subhanallah. Mungkinkah dia akan bunuh diri?
Aku bergegas keluar mobil. Lantas berlari kencang ke tepi pantai, tetapi sungguh ironis. Aku tidak mampu menemukan wanita tua itu di sini, dia benar-benar tidak ada. Aku berulang kali berlari dan berteriak, berharap ada suatu keajaiban. Tetapi, hasilnya tetap nihil. Tunawisma itu tak ubahnya debu di balkon rumah, terbawa angin dan entah menghilang ke mana. Air mataku kembali menitik. Tubuhku melemah.
***
“Kenapa Ibu dan Ayah tidak tinggal bersama lagi?”
“Karena, cinta adalah perasaan yang kita ciptakan, jadi cinta juga perasaan yang bisa kita hapuskan. Ibu dan Ayah sudah tidak saling cinta lagi, Sayang. Maafkan Ibu, yaa.”
“Jadi, Ibu akan pergi juga?”
“Tidak sekarang, Sayang. Tapi, bila suatu hari nanti Ibu pergi, dan kamu merasa sangat rindu pada Ibu, kamu boleh menghapus rasa cinta itu kapan saja. Jangan pernah membiarkannya, karena itu hanya akan menyakiti hatimu. Sekali lagi, maafkan Ibu.”
Aku mengerjap beberapa kali. Aku mendapati ayah duduk di samping ranjangku. Dia mengangkat handuk basah di atas dahiku, seraya mengembang senyum. Aku pikir, segala sesuatu yang terjadi kemarin hanyalah mimpi belaka, tetapi sepertinya itu adalah realitas yang tidak bisa aku hindari.
“Tunawisma itu sudah ditemukan. Kondisinya kritis. Dia memang mencoba bunuh diri. Biasanya, orang-orang yang melakukan bunuh diri itu bukan karena dia ingin mengakhiri hidupnya, melainkan karena ingin mengakhiri segala penderitaannya*,” kata ayah.
 “Ibu? Bagaimana dengan Ibu?”
Ayah tersenyum. “Dia baik-baik saja, sekarang sedang istirahat di rumah sakit. Cepatlah sembuh, lalu kita menengoknya sama-sama. Oya, Mama sudah membuatkan sup untukmu. Tolong, hargai jerih payahnya, yaa,” kata ayah.
“Dan, Ayah juga ingin meminta maaf untuk beberapa alasan, karena belum bisa menceritakan tentang keadaan Ibumu yang sebenarnya. Ayah takut akan melukai hatimu, karena Ibu tidak lagi bisa mengingat kita,” lanjutnya.
Aku menitikkan air mata. Sebelumnya, aku berpikir bahwa menghapus rasa cinta kita kepada seseorang itu semudah membalikkan sebelah tangan. Tetapi, realitasnya tidak semudah itu. Ibu pasti merasa kesulitan dalam beberapa tahun, menghapus cinta itu dari hatinya, hingga pada akhirnya Tuhan-lah yang berkehendak menghapus ingatannya. Hingga Demensia menjadi istilah yang tidak pernah aku duga.
Cinta tulusnya benar-benar membunuh seluruh ingatannya.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pendek: Radio

Sulli Eks f(x) Bunuh Diri, ini 3 Prestasinya yang Gugur dari Ingatan Netizen

Catatan Pendek: Kapten Alit