Catatan Pendek: Luruh
“Mau
sampai kapan menunggu sesuatu yang tidak pasti, Nduk?”
Suara
perempuan itu seketika mengejutkanku yang tengah duduk sembari menatap seberang
dari balik jendela. Jemari lembutnya lantas menyentuh puncak kepalaku, mengusap
dengan penuh ketulusan.
“Kalau
boleh tahu, kenapa dulu Bue menolak Mas Arya?”
“Dia
lelaki yang baik, Nduk. Tetapi, seorang Ibu selalu ingin memberikan yang
terbaik untuk anaknya. Maaf, ya, bila keputusan Bue kala itu membuatmu
terluka.”
Kemudian,
bibir tua itu mendarat di keningku. Mengecup lembut, penuh kehangatan. Tentu,
hatiku seketika menghangat, walau tetap saja belum mampu meredakan luka di
pedalaman hati ini. Mungkin intuisi seorang ibu memang benar adanya,
keputusanku untuk selesai dengan Mas Arya tidak benar-benar terjadi karena
penolakan bertubi-tubi yang bue dan bapak berikan, melainkan karena lelaki itu
telah berdusta. Hatinya diam-diam telah membuat ruang yang baru untuk perempuan
lain, ketika di hatinya telah ada aku. Dia jahat, karena itu selesai dengannya
adalah keputusan paling tepat.
***
Dulu,
aku kira pernikahan ialah puncak kebahagian dari sepasang kekasih yang saling
mencintai, tetapi rupanya tidak. Hal ini jelas sangat tampak dari ikatan yang
telah terjalin lama oleh bue dan bapak. Semenjak bapak resign dari
pekerjaannya di salah satu bank Indonesia, kehidupan kami tidak lantas membaik.
Lelaki yang dulu menjadi sosok tulang punggung keluarga, kini memutuskan untuk
menganggur.
Bue
yang hanya berstatus sebagai ibu rumah tangga pun mulai kesulitan mengatur keuangan,
apalagi bila kebutuhan pokok telah habis. Aku yang dulu baru menginjak kelas
satu Sekolah Dasar tidak benar-benar mampu meredakan resah yang ada di lubuk
hatinya. Suatu hari, bue bahkan terpaksa membuat bubur yang sangat encer,
karena tidak banyak beras yang tersisa untuk dimasak.
Sayangnya,
bapak tidak pernah bisa diajak bermusyawarah. Setiap kali bue membahas perihal
uang maupun kebutuhan pokok kami yang telah habis, amarah bapak seketika akan
membara. Segala perabot rumah akan riuh ketika beradu dengan lantai rumah kami,
tidak tanggung-tanggung terkadang amarah di dalam dadanya pun mampu membuat
kedua belah tangannya terayun memukul salah satu di antara kami, dan tentu saja
bue rela menjadi tameng untuk aku dan adik yang tidak berdaya.
Karena
itu, bue memutuskan untuk diam bahkan hingga aku tumbuh menjadi perempuan
dewasa. Dia tidak lagi berani mengucapkan satu atau dua kata ketika kebutuhan
pokok telah habis, padahal bapak asyik duduk di kursinya, menonton siaran televisi
sembari sesekali terbahak atau terkadang aku berhasil mendapatinya duduk
melingkar bersama teman-temannya sembari menyeruput kopi dan menghisap rokok.
Bue
lagi-lagi hanya bisa terisak di sepertiga malam. Berharap kelak kedua anaknya
tumbuh menjadi sosok yang membanggakan sehingga penderitaannya pun ikut
berakhir. Tetapi, kadang kala aku begitu kesal melihat sikap bue yang tidak
pernah tegas dalam menyikapi tabiat buruk suaminya, sehingga aku sering kali
berargumen dengan bapak hingga berujung amarah. Dan, lelaki itu benar-benar
tidak berubah. Amarahnya lagi dan lagi mampu membuat seisi rumah berantakan dan
jantung kami berdetak tidak beraturan.
“Kenapa
Bue tidak bercerai saja dengan Bapak?”
“Nduk,
bagi Bue, pernikahan ialah satu kali untuk sepanjang masa. Tidak pernah sekali
pun Bue berpikir untuk mengakhiri semuanya dengan Bapak.”
“Tetapi,
Shanum sayang dengan Bue.”
Kami
terisak bersama pada suatu malam. Meratapi gundah gulana yang tidak jua
berakhir. Bue meyakini satu hal, seburuk apapun tabiat seseorang, kelak mereka
akan berubah. Tetapi, bagaimana dengan bapak? Sudah belasan tahun bue menahan
amarah demi menanti perubahan baik dalam diri bapak yang realitanya kosong.
Lantas, harus berapa lama lagi perempuan renta itu bersabar menelan pahitnya
kehidupan?
Bue
bahkan rela selepas Shubuh menapaki jalanan dusun menuju pasar untuk membeli
bahan-bahan yang nantinya akan ia jajakan di kantin kampus. Ya, sudah tiga
tahun terakhir ini bue terpaksa mengabdi pada kantin kampus yang mana ialah
tempat aku mencari ilmu dan gelar sarjana. Padahal, punggungnya telah renta,
tetapi semangatnya mencari nafkah seakan tak pernah pudar. Lantas, apa yang
bapak rasakan? Entah, hatinya seperti telah mati. Peluh bue seperti tidak ada
arti di kedua belah matanya. Ia selalu saja marah-marah setiap kali bue pulang
telat dan tidak membawakan makan siang. Lapar perutnya, tetapi beliau seperti
tak pernah memahami sulitnya kami menahan lapar ketika ia memutuskan untuk
menganggur dan bue belum bekerja seperti sekarang ini.
Aku
yang memiliki sifat keras seperti bapak pun mudah sekali marah ketika bapak tak
kunjung menghargai jerih payah bue. Kami terus saja bertengkar setiap hari, dan
lagi-lagi rumah kami berantakan, amarahnya seakan ingin membunuh kami
perlahan-lahan. Suara perabot yang beradu dengan lantai, makian yang keluar
dari bibir tuanya, serta pukulan yang terus menerus diayun, rasa sakit belasan
tahun itu seperti tak pernah hilang dari ingatan. Rasa sakitnya masih sama,
tetapi mengapa bue masih betah bertahan?
“Kenapa
tidak cerai saja!” pekikku.
Bapak
membulatkan mata, lantas gegas mengambil sebuah gelas dan melemparnya ke
dinding. Lagi dan lagi, gelas itu beradu dengan lantai dan menjadi
kepingan-kepingan kecil yang tajam. Bue segera mengambil sapu, ia lantas
membersihkannya agar tidak melukai kaki siapa pun.
“Sudahlah,
Nduk.”
“Shanum
sayang dengan Bue.”
“Tetapi,
tidak seperti ini caranya, Nduk? Argumenmu hanya akan terus menerus
menghadirkan masalah, biarlah hati Bapak sekeras batu, namun kamu jangan.”
Aku
menitikkan air mata.
“Lihat,
sudah berapa banyak perabot kita yang habis karena ini? Bue sungguh tidak punya
uang untuk membelinya, jadi bersabarlah setiap kali kamu ingin marah, ya, Nduk.”
***
Suatu
hari, bue tersedu di kamar. Aku menghampiri sekadar memastikan, apakah ini ulah
bapak atau sebaliknya. Dan, bue menggeleng lemah. Ini jelas bukan karena bapak,
melainkan karena pihak kampus meminta bue untuk tidak mengelola kantin lagi.
“Mungkin
saja, karena Bue beberapa bulan terakhir menyetorkan hasil kantin dalam jumlah
yang sedikit. Lalu, bagaimana biaya kuliahmu kalau Bue tidak bekerja, Nduk?”
“Insya
Allah, pasti ada rezeki, Bu.”
Bue
lagi-lagi dengan sabar memberanikan diri membujuk bapak untuk kembali mencari
pekerjaan, mengingat aku dan adik masih sekolah, jelas saja bue masih memiliki
tanggungan untuk membiayai kami berdua. Tetapi, amarah bapak meluap.
“Siapa
yang akan menerima lelaki tua ini untuk bekerja?”
“Pak,
usiamu belum memasuki lima puluh tahun, anak-anak pun masih belum menikah.
Bagaimana mungkin Bapak sudah menua?”
Terus
saja begitu, bertutur dirinya telah menua dan pantas menikmati masa tua. Jelas
saja bue menyanggah argumen itu, bagaimana mungkin bapak ingin menikmati masa
tua di kala aku masih menjadi tenaga honorer dan belum menikah, sedangkan adik
masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas? Kami kecewa mendengarnya.
Dan,
mungkin ini memang menjadi akhir dari kisah rumah tangga bue dan bapak. Aku
lantas mencoba bersabar serupa bue, biarlah Allah yang berkehendak akan menjadi
seperti apa bapak di masa depan. Berubah atau tetap menjadi sosok ayah yang
sama?
***
Tetapi, tetap saja semuanya tidak benar-benar
berakhir.
Beberapa
tahun setelahnya, aku sakit. Entah, penyakit seperti apa yang ada pada diriku.
Dadaku kian sesak setiap kali mengingat amarah bapak kepada kami, kadang kala
aku menangis sesenggukan di kamar hanya karena mengingat setiap kepingan yang
terpencar itu. Hatiku berantakan, semuanya terasa hampa.
“Jadi,
saat ini Shanum merasa takut?” tanya seseorang di seberang.
Aku
mengangguk lemah.
“Kemungkinan
terbesar dari ketakutan Shanum saat ini ialah karena kamu khawatir akan
hadirnya sosok lelaki yang memiliki tabiat sama seperti Bapak, tetapi
pahamilah, Shanum, bahwa tidak semua lelaki sama.”
Sebelum
benar-benar menikah, Shanum tentu butuh waktu yang tidak singkat untuk mengenal
pasangan dengan baik, bukan? Jadi, jangan pernah menahan rasa sakitnya
sendirian, diskusikan ini dengan keluarga juga pasangan, ya. Saya meyakini bila
ketakutan tersebut timbul akibat kamu yang masih berada di tempat yang sama,
seolah-olah diri kamu terpenjara oleh masa lalu yang kelam dan rasa takut yang
tidak bisa kamu definisikan.”
Pertama-tama
yang harus Shanum lakukan ialah dengan mengubah pola pikir, bahwa pernikahan
dan kehidupan pasca menikah bukan suatu hal yang menakutkan untuk dijalani.
Saya yakin kamu pasti bisa melalui rasa takut itu dengan baik, karena kamu
adalah Shanum. Seseorang yang memiliki jiwa kuat dan sabar yang sama seperti
sosok Bue.”
Sebagai
kesimpulan dari pembicaraan kita, kemungkinan besar Shanum menderita Gamophobia,
tetapi ini bukan suatu hal yang menakutkan selama kamu dapat melakukan saran
yang telah saya berikan.”
Aku
lagi-lagi mengangguk.
“Baik,
terima kasih, Bu.”
Ya,
gamophobia bukan suatu penyakit yang mematikan. Selama aku mampu
melakukan saran dari konselor, semua akan baik-baik saja. Tentu. Jadi, mengapa
harus takut? Kelak, suatu hari ketakutan ini pun akan luruh dengan sendirinya
serupa tabiat buruk bapak.
***

Komentar
Posting Komentar