Catatan Pendek: Melepas Pagi
Matahari
sebentar lagi akan menenggelamkan dirinya ke peraduan, namun sepasang kekasih
itu belum juga melenggang pergi dari halaman pemakaman. Entah, apa yang sedang
mereka berdua bicarakan dalam diam. Pepohonan, bahkan bunga-bunga kering di
halaman tidak mampu menerjemahkan kebisuan di antara mereka, selain hanya menjadi
saksi bagi jari-jemari mereka yang bertaut erat, meski entah hati mereka masih
seirama atau sebaliknya.
***
Dengan
langkah tergesa-gesa, seorang gadis mungil menuruni anak tangga tak ubahnya
pelari, benar-benar sangat cepat. Dia lantas meraih tas ransel yang sengaja
diletakkan di atas sofa oleh bunda. Tas berukuran mungil itu tampak berat dan
penuh, dia melirik curiga ke arah bunda, tampaknya ada yang tidak benar di
sini. Gegas, dia membuka tasnya dan menumpahkan semua isinya ke atas meja.
“Bunda!”
pekiknya, kesal.
Yang
berulah justru terkekeh pelan, seperti memaklumi tabiat gadis mungil di
hadapannya yang mudah marah apabila tas ranselnya terisi barang-barang yang
sama sekali tidak dia inginkan. Apalagi bila bukan; payung dan jas hujan.
“Sudah
berapa kali Laras bilang, ini semua nggak akan pernah bisa menyelamatkan nyawa
Laras dari marabahaya, Bun. Yang ada, Laras bisa mati kapan pun, Bunda mau
kehilangan Laras secepat itu?” lanjut Laras, nama gadis mungil itu.
“Hus,
bicaramu ngawur. Tidak begitu, Nduk,” seloroh bunda, cepat.
Bunda
kemudian melanjutkan kalimatnya dengan sebuah nasihat panjang yang tentu saja
tidak ingin Laras dengar. Nasihat itu sudah seperti sarapan pagi yang selalu
dia telan hingga kadang terasa bosan dan pada akhirnya memutuskan untuk
melenggang pergi tanpa mengindahkannya lagi. Dia menuju ke kampus, langkahnya
lagi dan lagi tampak cepat, seperti sedang menghindari sesuatu selain
pembicaraan bunda.
Selama
perjalanan menuju ke kampus yang ditempuh dengan berjalan kaki, Laras beberapa
kali menilik layar ponselnya. Bukan, dia jelas bukan melihat notifikasi,
melainkan perkiraan cuaca. Sebab, perubahan cuaca benar-benar dapat merubah mood-nya
dengan sangat ekstrem. Tentu, dari baik ke buruk atau mungkin saja dari buruk
ke baik. Dan, pagi tadi bunda sudah menjadi alasan di balik kekesalannya, namun
seiring berjalannya waktu perasaannya kian membaik setelah melihat perkiraan
cuaca yang mengatakan bahwa hari ini akan cerah.
Namun,
ada sesuatu yang membuatnya senang selain perkiraan cuaca, ialah sebuah pesan
singkat dari lelaki yang dia rindukan dalam beberapa waktu terakhir. Siapa lagi
bila bukan Arash, kekasihnya. Arash mengatakan dengan sangat singkat dan jelas,
bahwa dalam waktu dekat dia akan kembali. Dan, tentu mereka akan bertemu.
***
Sabtu
sore, Laras bergegas merapikan kamarnya dan bersiap pergi menemui seseorang. Dia
tidak perlu khawatir akan jam perkuliahannya, karena hari Sabtu selalu libur.
Setelah menghabiskan waktunya untuk istirahat, kini dia merasa yakin bila
agenda kencannya dengan Arash tidak akan terhalang kantuk. Namun, ada yang
telewat. Ialah, dia lupa men-charger ponselnya yang ternyata telah
kehabisan daya baterai dan mati.
Seketika
dia panik, dan segera memastikan cuaca di luar dengan meniliknya dari balik
jendela. Cerah, benar-benar sangat cerah. Dia yakin, dengan langit yang secerah
ini, hujan tidak akan turun. Apalagi, dia masih belum mendengar gelegar petir. Setelah
memastikan semuanya aman, dia bergegas menuruni anak tangga dan melenggang
pergi menemui Arash.
***
Sebelum
sampai di halte bus, Arash sempat mengirim pesan singkat bahwa dia akan
menjemput Laras di halte dan mereka akan membicarakan hal serius di taman atau
sebuah kedai kopi kesukaan Arash. Laras seketika berdebar, mungkinkah
pembicaraan serius yang Arash maksud ialah pertunangan? Namun, dia segera
menepis pemikirannya. Tidak mungkin Arash mengambil langkah secepat itu ketika
usia Laras baru menginjak delapan belas tahun.
Lantas,
sembari menunggu Arash tiba, Laras asyik menerka “pembicaraan serius” yang
dimaksud kekasihnya; anniversary sepertinya bukan, ulang tahunnya masih
beberapa bulan lagi, lantas apa? Dia benar-benar dibuat penasaran.
Dan
tidak lama, Arash tiba di hadapannya. Setelah lama tidak berjumpa dan hanya
saling bertukar kabar via WhatsApp, Laras mengakui bahwa kekasihnya
tampak semakin tampan saja. Rambutnya dibiarkan memanjang, juga tubuhnya yang
tampak lebih berisi. Mungkinkah Arash sangat menikmati kegiatan perkuliahannya
di Jakarta? Tetapi, lelaki berusia dua puluh tiga tahun itu jauh lebih cocok
terlihat berantakan, sebab sedang menanti sidang skripsinya.
Laras
segera meraih jemari Arash, erat. Namun, lelaki di hadapannya tampak berbeda.
Bukan, ini bukan lagi tentang penampilannya yang memang telah berubah, tetapi
jari manis Arash tampak kosong. Padahal, satu tahun yang lalu mereka memutuskan
untuk bertukar cincin, lantas mengapa cincin itu tidak ada di sana?
“Lupa
nggak dipakai, ya?” tanya Laras seraya terkekeh.
“Bukan,
Ras.”
Laras
menaikkan muka. Bukan, itu bukan panggilan yang biasa Arash gunakan. Yang Laras
tahu ialah Arash hanya akan memanggil dengan nama bila dia sedang marah.
Tetapi, mereka baru saja bertemu, lantas apa yang membuat Arash berpikir untuk
menyapanya demikian?
“Maaf,”
lanjutnya perlahan.
“Cukup,
Rash! Kalau maaf yang kamu tuturkan karena bosan, aku nggak bisa.”
“Aku
akan tinggal di Jakarta, bukan hanya untuk keperluan kuliah semata, tetapi
selamanya. Kamu pasti sudah dengar kabar tentang perceraian Mama Papa aku, ‘kan?”
Laras
menelan salifanya.
“Aku
dan Mama akan tinggal di Jakarta. Jadi,” Arash menghela napas, berat.
“Tunggu,
Rash! Kamu ‘kan bisa pulang ke sini kapan pun. Enggak. Atau, aku akan ke
Jakarta kapan pun. Asal jangan itu, Rash. Aku nggak bisa. Tolong.”
“Kamu
ingat nggak, Ras, dulu kamu pernah bilang kalau kamu benci pekerjaan Ayahmu
yang mengharuskan beliau pergi jauh dan nggak pulang berhari-hari? Suatu hari,
aku pernah berharap perasaan benci itu juga hadir untuk aku, Ras. Aku ingin
rasa benci itu jauh lebih besar dari rasa sayang kamu ke aku, agar aku bisa
pergi dan nggak buat kamu khawatir lagi. Kamu ngerti ‘kan maksudku?”
Laras
menitikkan air matanya. Dia melepaskan jemari Arash yang sejak tadi di genggamannya.
Bukan berarti Laras menyerah, melainkan dia mencoba memahami kondisi Arash yang
sedang bimbang. Dia hanya berusaha meyakini satu hal, bahwa suatu masa Tuhan
akan mempertemukan mereka kembali, juga menyatukan cinta mereka lagi.
***
Arash
pergi begitu saja setelah mendengar jawaban singkat dari Laras yang pada akhirnya
mengiyakan permintaan Arash untuk “selesai”, ya meski lagi dan lagi Laras yakin
bahwa Tuhan masih akan berbaik hati menyatukan hati mereka, meski bukan dalam
waktu dekat. Tetapi, tidak apa-apa. Dia akan siap menunggu, kapan pun itu.
Selepas
kepergian Arash, tidak ada yang pernah tahu bila langit yang sebelumnya cerah
kini berubah gelap, lantas tetes demi tetes air langit menitik membasahi bumi.
Laras yang sebelumnya menutup muka sembari sesenggukan, kini berubah panik
setelah mendengar gelegar petir. Tidak, bahkan dirinya masih di tempat yang
sama; halte bus.
Intensitas
hujan semakin deras saja, Laras segera mengedarkan pandangan, namun tidak ada
seorang pun di sekitarnya. Dia hanya berdiri di halte bus seorang diri, sedang
langit kian menghitam dan kilat muncul semaunya. Dia memekik, tangisnya pecah
setiap kali kilat dan petir menggelegar. Jemarinya siap menutup kedua
telinganya rapat-rapat, matanya terpejam, bahunya bergetar kedinginan. Tidak
lama, dia melemah, tubuhnya terhuyung, dan semuanya gelap.
Dalam
hati, dia bertutur pendek, “Siapa pun, tolong aku.”
***
Air
mata seseorang menitik sore itu. Dia melepaskan genggamannya demi mengusap butir
air mata yang menganak di kedua pipinya. Lelaki di sampingnya masih bisu, namun
bahunya bergetar hebat. Tentu, ada perasaan sangat bersalah yang hadir dan
mungkin saja perasaan itu tidak pernah bisa dia tepis hingga kini juga.
“Aku
sudah putar balik, tapi di halte tidak ada siapa pun,” ucap lelaki itu, “Aku
pikir dia sudah sampai di kamarnya dan akan baik-baik saja. Ternyata, aku salah
besar. Selama beberapa hari dia kesakitan di atas ranjang rumah sakit, dan pada
akhirnya tiada.”
Perempuan
di sampingnya sesenggukan.
“Sebenarnya,
hari itu aku masih sangat menyayanginya. Tetapi, aku takut suatu hari akan
mengecewakannya, sama seperti Papa mengecewakan Mama. Karena itu, aku pikir dengan
selesainya hubungan kami, semua akan baik-baik saja. Realitasnya, hatiku tidak.
Bahkan, debar ini masih hadir setiap kali aku mengingat momen pertama kali kami
bertemu. Aku sangat mencintai dia, Nad. Maaf,” tutur lelaki itu.
Perempuan
itu mengalihkan pandang pada langit yang ternyata kian menguning. Ada beberapa
burung yang terbang ke sana kemari, tentu saja mereka mencari tempat ternyaman
untuk beristirahat sebelum petang benar-benar datang.
“Semuanya
sudah jelas, Rash. Alasan mengapa lima tahun kita terasa hambar dan tidak
spesial. Itu tersebab hatimu yang masih berlabuh di pedalaman hati yang sama.
Rupanya, pedalaman hati itu bukan milik saya, Rash. Melainkan milik gadis
mungil yang bersemayam di pusara itu.
“Sekarang,
saya mengerti bila kamu belum bisa menikahi saya. Sungguh, tidak apa-apa bila
sore ini akan menjadi akhir dari cerita kita. Terima kasih untuk lima tahun
yang telah kamu luangkan untuk saya, Rash, saya benar-benar bahagia bisa
menjadi satu di antara miliaran mozaikmu yang terpencar entah di mana. Apapun
keputusanmu, saya akan ikut bahagia, Rash. Percayalah,” ucap perempuan itu.
Arash
menitikkan air matanya, bahunya bergetar hebat. Dengan sangat menyesal, dia
menggumamkan maaf berulang kali, dan berjanji tidak akan menciptakan luka lagi
untuk banyak orang. Dan, mungkin saja dia akan benar-benar berhenti mencari
pedalaman hatinya yang lain, sebab Laraslah satu-satunya pedalaman hatinya yang
tidak bisa terganti oleh siapa pun. Untuk kali terakhir, Arash memeluk
perempuan di hadapannya.
“Terima
kasih banyak, Nadya,” gumamnya.
“Terima
kasih kembali, Arash,” jawabnya.
Nadya
menitikkan air mata, setelah benar-benar menjatuhkan cincin pertunangannya di
atas pusara Laras. Dia merasa bila sejak awal cincin itu bukan miliknya, sebab
itu mengembalikan kepada pemiliknya adalah pilihan terbaik.
Bila
aku malam, tetap dalam gelap
Bila
engkau pagi, tetap dalam terangnya mentari
Sungguh
keduanya tak akan pernah bersama
Begitulah;
kau dan aku
***

Komentar
Posting Komentar