Catatan Pendek: Sampai Bersua di Pemalang
Jakarta, 18 Januari 2017
Masih kurang lebih sepuluh
menit lagi, sebelum kereta api yang aku naiki benar-benar melaju meninggalkan
Jakarta yang terik juga pelik. Bukan apa-apa, tetapi Jakarta seperti sudah
menjadi saksi hadirnya cinta yang lama kunanti pun patahnya hati yang sampai
sekarang tak pernah sanggup aku pahami.
Dia, lelaki yang kini tak
lagi singgah di pedalaman hati, dulu sosoknya pertama kali aku jumpai di sebuah
jalanan kampung halaman. Kami tidak pernah bertegur sapa, karena memang tak
pernah saling mengenal. Aku yang besar di pondok pesantren, sedang ia yang tumbuh di perkampungan membuat kami
benar-benar menjadi sosok asing ketika tidak sengaja berpapasan di jalan.
Entah siapa namanya, batinku
dulu.
Yang aku ingat, tubuhnya
jangkung. Tetapi, entahlah dengan garis wajahnya.
Aku tidak benar-benar berani
menaikkan muka dan menatap air mukanya. Haram bagiku menatap seseorang yang
belum mahram, mengingat aku baru saja lulus pondok pesantren. Tentu, aku
berusaha taat, meski kadang kala aku begitu penasaran, mungkinkah dia tampan
atau sebaliknya?
Dan, Allah memang Maha Adil.
Rasa penasaranku terjawab juga, ketika aku memutuskan untuk merantau di Jakarta
mengikuti jejak abangku, tanpa sengaja aku bertemu dengan lelaki itu, tentu di
jalanan Jakarta yang penuh dengan ingar bingar. Dia sedang duduk di atas
motornya, menanti lampu lalu lintas berubah hijau ketika tidak jauh darinya aku
sedang sibuk menunggu angkutan umum.
Kami bersitatap cukup lama,
sampai pada akhirnya ia menawariku untuk naik dengan air muka malu-malu. Aku
pun begitu, menolak malu-malu, namun pada akhirnya aku berada di balik
punggungnya tanpa benar-benar berani bersandar.
Dia wangi, hanya itu yang
aku ingat pertama kali. Entahlah, mungkin saja karena setengah wajahnya
tertutup helm, atau mungkin saja karena aku yang terlampau gugup sehingga tak
berani menatap air mukanya lama-lama.
Lalu, motornya berhenti di
sekitar daerah Thamrin, tepat di mana tempat kostku berada.
Alih-alih mengucapkan terima
kasih, aku justru memberinya beberapa lembar rupiah.
Dia terkekeh, lantas
menggeleng.
“Nggak perlu, Mbak.
Disimpan saja, saya ikhlas,”
katanya,
“Lagi pula, sudah
sepantasnya saya membantu orang sekampung, jarang sekali saya bisa bertemu
dengan orang sekampung di Jakarta yang luar biasa luas ini.”
Aku mengangguk, tetapi masih
nyaman berdiri di tempat yang sama, di samping sepeda motornya yang mesinnya
masih dibiarkan menyala. Kami terdiam lama, sebelum pada akhirnya ia
mengulurkan handphone-nya padaku.
“Kalau ada apa-apa, Mbak
boleh minta tolong saya. Kalau saya bisa bantu, saya pasti akan bantu,”
katanya.
Aku mengembang senyum,
lantas meraih handphone yang sejak
tadi berada di genggamannya. Senang
sekali, batinku.
Karena, aku bisa membiarkan ia menyimpan nomorku dan menghubungiku suatu hari
nanti.
“Nanti saya telepon, ya?”
tuturnya.
Aku mengernyitkan dahi.
“Anu, Mbak ‘kan belum simpan
nomor saya,” jelasnya.
Aku kembali mengembang
senyum.
Benar saja, malamnya ia
menelepon. Alih-alih hanya meminta aku untuk menyimpan nomornya, ia justru
bertutur panjang tentang alasannya berada di Jakarta juga tentang keluarganya
yang terpaksa ia tinggalkan di kampung halaman. Aku juga tidak menyangka, bila ia menjadi
satu-satunya tulang punggung keluarga setelah kakak-kakaknya menikah.
“Ada Bapak,” tuturnya,
berat.
Aku bahkan bisa mendengar
isaknya, walau hanya dari seberang telepon. Dia sungguh sangat mengkhawatirkan
kondisi bapak di kampung halaman, mengingat di usia rentanya, bapak memutuskan
untuk bekerja serabutan untuk mengisi waktu lapang.
“Sudah larut, Mas,” kataku.
Dia terkekeh pelan, lantas
meminta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahatku.
Tetapi, bukan itu yang aku
maksud. Aku jelas sangat mengkhawatirkan dirinya, lalu
bagaimana aku bisa menghibur dirinya yang merana itu?
“Besok bisa ketemu?”
tanyaku.
Dia bergeming lama, seakan
tidak percaya dengan kalimat yang baru saja aku lontarkan.
“Mas boleh cerita sepuasnya,
besok. Biar saya ada di sana, di sampingmu, Mas. Jaga-jaga, bila Mas memang
membutuhkan seseorang untuk menepuk bahumu, saya bersedia.
Asal tidak malam ini,”
jelasku sebelum pada akhirnya benar-benar menutup sambungan telepon.
Esoknya, kami benar-benar
bertemu di sebuah kedai kopi di daerah Thamrin. Dia sudah duduk di sana, namun
mejanya masih saja kosong. Aku berjalan menghampirinya dengan langkah santai,
kami kembali bersitatap, namun air muka kami tidak lagi sama seperti
sebelumnya. Kali ini, kami saling mengembang senyum.
Malam seperti telah mengubah
semuanya, mengubah hubungan kami pun mengubah cerita di antara kami.
Dua jam berbincang
dengannya, aku hanya kecewa. Alih-alih melanjutkan obrolan kami semalam, ia
justru memintaku untuk singgah lebih lama. Bukan sebagai teman cerita,
melainkan sebagai teman hidup hingga menua.
Dan, aku tersenyum
mengiyakan.
Siapa sangka, hubungan kami
bertahan cukup lama, dari hari ke bulan, lantas dari bulan ke tahun. Kami pun
hampir tidak pernah bersitegang hanya karena berbeda pendapat, ia selaku
manusia yang lebih dewasa selalu mengalah tanpa aku minta. Karena itu, aku
jatuh cinta, dan berharap suatu hari Allah benar-benar merestui hubungan kami berdua
dalam ikatan yang lebih suci, yakni pernikahan.
Abang pun seperti sudah
memberi lampu hijau, asalkan sebelum janur kuning melengkung, kami bisa saling
menjaga. Entahlah dengan orang tua, ia belum pernah menceritakan tentang kami
kepada bapak, begitu pun denganku. Aku ragu, bila umma dan abah bisa memberi
restu.
“Sabar, yaa, Dik,” katanya
suatu sore.
“Tentang?” aku benar-benar
penasaran.
“Hubungan kita.
Mas perlu selesaikan kuliah,
juga mencari pekerjaan yang layak agar kelak bisa pantas untuk menemui orang
tua Adik, juga Bapak di kampung halaman.”
Aku tersenyum. Tentu, aku
akan bersabar. Karena, belum pernah sebelumnya aku temui lelaki yang lembut
sikapnya, baik tuturnya, dan sabarnya yang luar biasa. Sore itu, aku genggam
jemarinya erat-erat, kelak tak akan pernah aku lepas, sesulit apapun cobaannya.
Namun, beberapa bulan
kemudian ia membuatku kesal bukan kepalang. Belakangan, teleponku tidak pernah ia jawab,
pesanku tidak pernah ia balas, dan ia tidak lagi menjemputku tepat waktu. Bila
ditanya, alasannya selalu sama: sibuk dan tak pernah sempat. Dan, mungkin saja
hari ini pun sama, dia sibuk sehingga tak pernah sempat melihat pesan yang aku
kirim puluhan kali. Tetapi, entah mengapa aku masih sabar menunggu, walau
langit kian mendung, dan rintik hujan mulai membasahi puncak kepalaku.
Tidak lama, sebuah motor
berhenti melaju di hadapanku. Dia basah, aku pun juga.
Air mataku menitik untuk
pertama kalinya setelah hubungan panjang kami yang sebelumnya tampak baik-baik
saja. Dia berubah.Ya, dia benar-benar menjadi sosok yang berbeda.
“Maaf, Dik. Pakai jas hujan
dulu, yuk,” pintanya.
“Telat!
Saya sudah basah,
Mas!” pekikku sembari terisak.
Dia lantas menarik lenganku,
memintaku untuk segera meneduh, tetapi aku bersikeras untuk menolak ajakannya
dan memilih untuk basah kuyup bermandikan hujan.
“Dik, kamu bisa sakit,”
katanya.
Air mataku kembali menitik.
“Saya sudah sakit, Mas, semenjak kamu tak lagi berkabar,”
tuturku.
Dia tiba-tiba saja melemah,
melepaskan jemariku perlahan. Aku menggeleng cepat, berharap ia kembali meraih
jemariku, tetapi realitasnya tidak. Samar-samar, aku mendapati air mata
mengalir dari pelupuk matanya. Ada
apa?
“Kalau gitu, kita putus
saja, Dik,” katanya, “Biar saja kita tak lagi pernah berkabar, biar saja hari
ini kamu basah dan sakit, biar saja esok Mas tak lagi menjemputmu pulang.
Kita selesai saja di sini.”
Aku lekas meraih jemarinya.
“Bukan itu maksud
saya, Mas.
Bukan itu yang saya mau,”
kataku.
Tetapi, semunya sudah
terlambat. Dia benar-benar melepaskan jemariku, lantas pergi
menghilang dari pandanganku, bukan untuk hari ini, melainkan untuk selamanya.
Semenjak hari yang suram
itu, sosoknya tak lagi datang menemuiku.
Kami benar-benar telah
selesai.
Namun, ada hari yang akan
selalu aku ingat sepanjang usia. Ketika seorang lelaki berdiri di depan tempat
kerjaku seraya mengembang senyum. Sebelumnya, aku pikir lelaki di seberang itu
adalah dia, tetapi aku keliru. Lelaki itu tidak lain tidak bukan ialah adik
dari kakak iparku di kampung halaman. Saefudin namanya.
“Ada apa, Mas?” tanyaku.
“Jemput kamu pulang, Dik,”
jawabnya lantang.
“Tidak
perlu, Mas. Saya mau naik
angkutan umum saja,” timpalku.
“Besok dan lusa juga?”
pekiknya.
Aku menaikkan muka,
terkejut.
“Dik, kamu mau nunggu si udik itu sampai kapan, sih?”
Plak!
Aku menamparnya tepat di
pipi kanannya. Tidak aku sangka, lelaki yang aku anggap sebagai abang
sendiri begitu kasar di depanku. Mengapa orang-orang di sekitarku begitu cepat
berubah, sebenarnya apa yang terjadi?
“Udik?” aku menghela napas,
berat.
Mas pikir, Mas lebih baik hanya karena singgah di sini jauh lebih
dulu?”
“Iya!” pekiknya.
“Pergi!
Selamanya saya nggak sudi
dibonceng kamu, Mas!”
Air mataku menitik, lantas
secepat kilat aku berusaha menghapusnya.
Entahlah, aku hanya tidak
ingin terlihat lemah pada sepasang mata siapa pun, tetapi mengapa harus dia
yang merobohkan tembok pertahananku.
“Laki-laki lemah, kok, dipertahankan?
Baru ditonjok sekali,
langsung mundur. Itu yang kamu sebut cinta, Rin? Mau jadi apa kelak
bila menikah dengan laki-laki kere kayak dia itu!”
Langkahku terhenti.
Aku berharap sepasang
telingaku benar-benar salah mendengar. Tetapi, angin membawa kalimat itu dengan
sangat jelas, sehingga menepis pun rasanya aku tak akan mampu. Lantas, tubuhku
melemah dan aku hilang kesadaran.
Ketika kembali sadar, aku
hanya bisa mendapati diriku tidak berdaya di atas ranjang.
Abang, umma, dan abah duduk
meraung di kamar kostku. Hati mereka terkoyak melihat aku tak lagi mampu
menerjemahkan cinta. Benar, duniaku telah hancur selepas kepergian dia yang
kini tidak lagi berpulang.
Aku depresi, mungkin saja
begitu. Aku menanggalkan jilbab panjangku yang sebelumnya belum pernah aku
tanggalkan selepas lulus dari pondok pesantren. Tidak hanya sampai di situ, aku
mengubah gaya berbusanaku, yang sebelumnya jubah, kini berubah menjadi celana
jeans sepanjang lutut, kaus oblong, serta rambut pendek di atas
daun telinga. Abang,
umma, dan abah kembali meraung. Namun, selebihnya mereka pasrah, kini yang
mereka harapkan dalam doa, aku kembali bahagia.
Tetapi, aku belum juga
bahagia seperti harapan mereka. Juga ketika tanpa sengaja aku melihat kabar duka, bila
bapak meninggal. Entah mengapa, hatiku perlahan terluka, meski aku dan
bapak belum pernah berjumpa. Gegas, aku mencari jadwal keberangkatan kereta api
dengan tujuan Jakarta – Pemalang yang masih tersedia hari ini, sebelum pada
akhirnya aku memutuskan untuk ambil libur selama beberapa hari.
Dan, aku pulang.
Masih tersisa satu menit
sebelum kereta benar-benar melaju, aku masih memiliki kesempatan untuk keluar
dari gerbong, tetapi hatiku seperti menahanku untuk tetap singgah, meski dia
tak pernah lagi ada, setidaknya ini satu-satunya cara untuk membuktikan bila
cintaku masih sama, walau bertahun-tahun lamanya kami tak lagi bertukar sapa.
Aku menghela napas, dan
tidak lama kereta melaju dengan kecepatan penuh, menerobos lorong-lorong gelap
masa laluku, meninggalkan Jakarta, meninggalkan kisah-kisah pelik di antara
kami berdua. Sampai bersua di Pemalang, tuturku pada akhirnya.
***
Aku pulang.
Aku benar-benar pulang.
Halaman rumahnya sepi,
benar-benar tidak seperti rumah duka pada umumnya.
Sepasang mataku memang
menangkap bendera kuning lambang kematian, tetapi tak banyak orang-orang yang
berlalu-lalang. Aku menelan salifa, getir.
Lantas memberanikan diri
memasuki ruang demi ruang rumah tersebut, dan mendapati bapak terbujur kaku di
atas dipan di ruang tengah. Air mataku menitik, meski kami belum pernah saling
menyapa sebelumnya.
Aku segera beralih pandang,
dan mendapati orang-orang yang tengah memandangku penuh tanda tanya. Aku memang
belum pernah pulang sebelumnya, karena itu wajar apabila banyak yang tidak
mengenalku, kecuali beberapa tetangga yang memang mengenal
baik
diriku.
“Pulang kapan, Rin?” tanya
seorang wanita.
“Baru tadi,” kataku.
Aku segera membantu apa-apa
saja yang bisa aku bantu. Entah merakit bunga-bunga, atau hal-hal lain yang
bisa aku lakukan sembari sesekali mengedarkan pandang, tidak ada satu pun yang
terisak di sana, baik kakak dari dia maupun saudara-saudara lainnya. Entahlah, mungkin
memang aku saja yang terlalu mendramatisir suasana.
“Yanto belum juga sampai
Pemalang, padahal dia yang paling almarhum rindukan,” kata seseorang di
seberangku, “Katanya lumayan susah ngurus cuti di PT, kasihan.”
Aku menghela napas panjang.
Entah mengapa dadaku terasa
sesak ketika mendengar nasibnya begitu buruk dalam hal mengurus cuti.
Semoga dia bisa sampai di
Pemalang tepat waktu, sebelum bapak benar-benar disemayamkan di pusaranya.
Dan, tidak lama aku
mendengar suara pintu diketuk tiga kali, juga suara salam yang begitu lemah. Itu dia, pikirku. Aku segera berdiri,
ingin rasanya berada di sampingnya, memeluk tubuhnya, dan mengatakan bila semua akan baik-baik saja. Tetapi,
realitasnya aku mendapati sebelah tangannya menggenggam tangan seorang
perempuan muda, dan sebelah tangan lainnya menggendong anak lelaki berusia lima tahun.
Aku menelan salifa, getir.
Dan, tanpa sengaja sepasang mata kami bertemu. Namun, semuanya tidak lagi
terasa sama. Tidak. Aku tidak lagi sanggup menatap bola matanya, aku pikir
bertemu dengannya akan sedikit mengobati rasa sakitku, tetapi ini terlampau
sakit untuk kembali diobati. Mungkin saja, Allah masih memiliki rencana lain.
***
“Matur suwun sanget,”
tuturnya selepas prosesi pemakaman bapak.
“Yang sabar, yaa, Yan,”
celetuk seseorang.
Hampir semua ibu-ibu di
sekelilingku menyalami dia sekaligus pamit pulang ke rumah masing-masing,
sebelum pada akhirnya hanya tersisa aku yang memandangi air mukanya dari
seberang. Aku tidak benar-benar siap melangkah, pun untuk
berjabat tangan dengannya. Aku tidak sanggup. Tetapi,
langkahnya kian mendekat padaku. Entahlah, rasanya seperti ragaku dan raganya
hanya berjarak tujuh sentimeter.
“Terima kasih, Rin,” tuturnya,
sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandanganku selamanya.
Aku
menghela napas pendek.
“Di-dia istrimu, Mas?” tanyaku.
Aku dengar langkahnya
terhenti, tetapi tidak ada jawab yang terlontar dari bibirnya.
“Saya turut bahagia,” lanjutku.
Air mataku menitik. Tidak
sepantasnya aku menangisi kebahagiaan orang lain, tetapi entah mengapa
melepaskan dia menjadi sesuatu yang sulit untuk aku lakukan? Aku bahagia,
tetapi mengapa aku tidak bisa benar-benar bahagia untuknya? Benar, hakikatnya
aku telah kecewa, dan berharap mereka tidak pernah bahagia selamanya.
***
Dan, burung-burung mulai bersiul
menyampaikan kabar yang terpaksa harus aku telan pahit-pahit selepas kematian
bapak. Perempuan yang beberapa hari ini mendampingi Mas Yanto ialah Marni,
janda beranak satu. Seorang buruh cuci dan setrika di Jakarta. Entah, di mana
mereka bertemu dan mulai saling menyimpan cinta yang kemudian menjadi candu,
aku tidak benar-benar tahu kabar lengkapnya. Yang aku tahu, mereka adalah
sepasang pengantin baru, dan sore ini akan kembali berangkat ke Jakarta. Tidak
untuk sementara, melainkan untuk selamanya.
Pada
akhirnya, aku tidak bisa menahan hadirnya untuk singgah lebih lama.
Karena,
raganya tidak lagi menjadi milikku.
Paling
tidak, hadirnya mampu membuatku sadar, bila cinta bisa kadaluwarsa kapan saja.
Aku keliru, berpikir ia masih sangat mencintaiku, rupanya ia telah memiliki
pasangan baru. Usai sudah rindu yang aku pupuk hari demi hari, mungkin kisah
kita memang tidak layak untuk diulang kembali. Selamat tinggal, baik-baik di Jakarta, ya.
***
Pemalang, 19 November 2019
Aku tidak bisa tidur semalam
suntuk. Sempat abang membelikan aku nasi goreng di depan SMA Negeri 1 Pemalang,
namun rasanya tidak lagi sama di lidah. Mungkin saja, karena aku mulai merasa
gugup membayangkan segala kemungkinan yang terjadi, tetapi doa abang, umma, dan
abah hanya satu, semoga aku bahagia atas pilihanku.
Aku tidak banyak mengundang
tamu, mengingat aku besar di pondok pesantren di Kota Pekalongan, lantas dewasa
ini memutuskan untuk ikut abang merantau di Jakarta, sehingga tidak banyak
teman yang aku kenal di sekitar perkampungan. Juga, rasanya aku pun tak perlu mengundang dia,
mengingat selepas kematian bapak, dia tidak lagi pulang ke kampung halaman.
Rumah besar itu kini dikontrakkan, dengar-dengar dikontrak oleh seorang
pedagang besar. Entahlah,
aku juga tidak benar-benar
mencari tahu.
Tidak lama, aku mendengar
suara umma memanggil namaku sembari mengetuk pintu, beliau menanyakan apakah
aku sudah siap dirias, karena periasnya sudah sampai.
Aku segera melihat arloji,
masih pukul enam pagi. Insya Allah,
akad nikah kami akan dilaksanakan pukul Sembilan nanti di halaman rumah.
Aku segera membuka pintu dan
mempersilakan perias masuk ke kamar. Entahlah, aku tidak mengerti perihal apa-apa saja yang
dia letakkan di wajahku. Aku hanya diam di tempatku sembari memejamkan mata,
hampir saja ketiduran. Satu atau dua jam kemudian—aku tidak benar-benar
tahu—dia memintaku untuk segera berganti baju.
Baju pertama yang aku
kenakan ialah kebaya putih yang sangat cantik, aku jadi penasaran, di manakah
umma memesan baju secantik ini?
“Silakan bercermin dulu, Dik
Arini,” kata salah seorang perias.
Aku menurut saja, dan tanpa
sadar aku tengah mengulum senyum melihat cerminan diriku yang begitu cantik dan
memesona. Lalu, pandangku beralih pada sisa undangan yang tergeletak di atas
meja rias, jelas nama yang tertulis di kolom penerima ialah Yanto, lelaki yang
pernah singgah lama di pedalaman hatiku. Sesungguhnya, aku tidak benar-benar
ingin menyampaikan undangan ini, aku hanya bimbang beberapa saat.
Tetapi,
aku hanya akan berakhir sebagai perempuan jahat bila aku memutuskan untuk
mengabaikan lelaki yang tengah menunggu hadirku di luar, yang telah sabar
menuntunku kembali ke jalan yang benar. Aku tidak benar-benar siap untuk
melepaskan jemarinya.
Jadi,
hari ini izinkan aku mengikhlaskan kisah lamaku pergi dan menyambut kisah
baruku yang entah akan mengalir seperti apa. Bersama lelaki yang kini berjabat
tangan dengan penghulu, aku berharap kisah kami tak akan pernah berakhir sendu.
Bismillah.
Lalu,
jemari kami saling bertaut, kecupnya hangat menyentuh keningku.
***

Komentar
Posting Komentar