Catatan Pendek: Senandung Asa




Di luar gerimis, sedang aku memutuskan untuk menepi di depan jendela kamar, ada satu set meja belajar di sana dan pigura kecil di atas meja. Ya, hanya sebuah pigura kecil, namun memiliki arti yang sangat besar; persahabatan. Ada senyumku dan teman baikku yang mengembang di dalam pigura tersebut. Momen yang sangat sakral sekaligus membahagiakan, yakni ketika kami sama-sama diwisuda pasca dinyatakan lulus SMU.
Aku menyentuh pigura itu lantas menyekanya perlahan. Ada semacam perasaan maha dahsyat yang tidak mampu aku terjemahkan, lelaki yang mengembang senyum di sampingku itu hanyalah lelaki biasa, namun kehadirannya mampu memberikan rasa nyaman yang jauh lebih besar dari kebanyakan manusia yang pernah aku jumpai.
Salah satu yang tidak pernah hilang dari ingatan ialah ketika sosoknya tidak pernah pergi di masa aku sedang bahagia maupun gundah gulana. Juga ketika aku dengan bodohnya tidak mengetahui perihal apapun, dia berusaha sabar untuk mengisi ketidaktahuanku dengan pemikiran-pemikirannya. Meski, sekali lagi aku tidak pernah mampu menjamah dunianya yang maha luas, dunia yang dia ciptakan sendiri, yang terkadang tidak pernah bisa dimengerti oleh orang lain. Namun, lagi dan lagi, aku dengan bodohnya mau memahami itu tanpa tapi.
Tetapi, suatu hari ada semacam ketidaktahuan yang mulai terpecahkan satu per satu. Dari yang sebelumnya tidak tahu apa-apa, lantas mulai aku temukan jawabannya. Jawaban atas segala tanyaku perihal rasa nyaman itu, yang senantiasa dia hadirkan kapan pun.
“Nikah, yuk, Ra,” celetuknya suatu sore.
Aku menaikkan muka, lantas terkekeh perlahan.
“Saya serius,” katanya.
Aku menggeleng sembari masih terkekeh panjang.
Dia lantas menatapku, mengharap jawaban.
“Ju, kalau kita nikah, lalu suatu hari salah satu di antara kita terluka, aku harus cerita ke siapa di saat hanya kamu satu-satunya ruang terbaik untuk aku berkeluh kesah?”
Dia menghela napas. “Saya tidak akan membuatmu terluka, janji.”
Aku menelan salifa, lantas mengalihkan pandang pada ilalang di seberang sana yang sedang terkena bias sinar mentari sore yang hendak kembali ke peraduannya. Sangat indah, seindah kalimat Juwang sore ini, namun perasaanku tidak bisa sama. Sungguh.
“Tidak ada yang pernah tahu, Ju. Bahkan satu jam ke depan,” jawabku.
“Tapi, Ra, saya mencintaimu,” lanjutnya.
“Kita begini saja, Ju. Tolong, tetap begini saja.”
Tuk.
Aku terkesiap, lantas segera meletakkan pigura kecil yang sejak tadi aku genggam. Bapak menatapku seraya mengembang senyum, dia meletakkan secangkir kopi yang mengepul di samping lenganku. Aku tahu hanya dengan mencium aromanya saja, itu adalah kopi hitam. Seseorang pernah mengatakan bahwa kopi hitam sungguh nikmat ketika bersanding dengan gerimis, jangan tunggu terlalu dingin. Tentu, kalimat seperti itu hanya keluar dari bibir mungil Juwang, teman baikku.
“Kapan kamu akan mengatakan padanya, Nduk?” celetuk bapak yang ternyata masih berdiri di sampingku dengan sorot mata yang dilempar ke seberang jendela.
“Nanti,” jawabku sendu.
“Juwang berhak tahu tentang kamu dan Yogi, tentang pertunanganmu, juga pernikahanmu yang hanya menghitung pekan. Dia berhak mengetahui itu semua, Nduk.”
Aku menggeleng cepat. Mengapa bapak harus menyentuh kegalauan yang sebenarnya tidak ingin aku sentuh sejak tadi? Aku bukan tidak ingin memberitahu tentang hubunganku dengan Yogi pada Juwang. Sama sekali bukan. Aku hanya butuh waktu sebentar lagi, nanti bila aku benar-benar siap.
“Nduk?” bapak menyentuh bahuku perlahan.
“Pak, aku hanya nggak mau Juwang kecewa setelah mendengar penjelasanku. Aku juga nggak mau bila hubunganku dengan Juwang menjadi renggang karena itu,” jawabku.
“Nduk, kamu nggak mau Juwang kecewa atau kamu nggak mau menerima sebuah realitas bahwa sebenarnya kamu yang jauh lebih kecewa atas penjelasanmu sendiri?” bapak bertanya serius, kali ini sorot matanya benar-benar tajam.
Aku menelan salifa, lantas bergeming lama. Benar saja kata bapak, aku bukan takut Juwang akan kecewa atas segala penjelasanku, melainkan sebaliknya. Aku khawatir perihal diriku sendiri yang nantinya akan lebih kecewa dari siapa pun. Aku takut tidak bisa sedekat dulu dengan Juwang, atau mungkin realitas terparahnya kami tidak lagi menjalin hubungan baik. Aku benar-benar takut kehilangan sosok Juwang.
Bapak mengusap puncak kepalaku, lantas memelukku erat. Sedang napasku terasa sangat berat, kedua bola mataku terasa panas, lantas air mataku menitik satu per satu membasahi baju bapak. Ternyata, ada ketakutan yang selama ini terpenjara dalam diriku, aku takut kehilangan Juwang. Aku benar-benar takut kehilangan dia.
“Nduk, yang tabah, yaa. Terkadang ada seseorang yang hadir memberikan kenyamanan maha dahsyat, namun Tuhan tidak menakdirkan kehadirannya menjadi jodoh kita,” lanjut bapak sembari tetap mengusap puncak kepalaku.
Tangisku pecah, lantas menderas, seirama dengan intensitas hujan hari ini. Namun, ada keikhlasan yang coba aku rangkai satu-satu. Bahwa suatu masa, aku harus mampu mengikhlaskan kepergian Juwang yang mungkin tidak akan pernah berpulang ke sisiku mengisi setiap kekosongan dan ketidaktahuanku.
***
Satu pekan kemudian, aku memutuskan untuk bertemu dengan Juwang di tempat terakhir kali kami bertutur panjang, yakni padang ilalang. Dia berdiri di sana, menatap hamparan ilalang yang lagi-lagi terkena bias mentari sore. Sedang aku hanya mampu menatap punggungnya tanpa bisa mencari topik pembicaraan yang menarik.
“Ju, aku akan menikah,” kataku akhirnya.
Dia memutar badan, lantas menatapku lama. “Dengan?”
“Yogi,” jawabku.
“Saya ikut bahagia, Ra,” katanya.
Aku menaikkan muka, menatap sosoknya yang kini mulai terlihat samar. Bukan, bukan dia yang pelan-pelan pergi dari pandanganku, namun karena air mata ini sudah memenuhi pelupuk mata sehingga membuat sosoknya tampak kabur. Aku terisak sembari mengucap terima kasih tiada henti.
“Ra? Jangan nangis, yaa, saya nggak akan pergi, janji,” tuturnya seraya mengusap air mataku satu per satu.
Sudah, biar saja sore yang mengakhiri cerita kami dengan haru bahagia. Lantas, aku peluk bayang Juwang sekali lagi untuk kali terakhir sebelum kisah kami benar-benar berakhir. Sekali lagi “terima kasih”, karena telah hadir merubah luka menjadi tawa. Teman baikku; Juwang.
***

Komentar