Catatan Pendek: Sebuah Permohonan




Aku pernah sekali menonton siaran televisi bertajuk Drama Korea. Entah, apa yang menarik dari siaran televisi itu. Tetapi, mama sangat suka. Dia bahkan rela menghabiskan waktu istirahatnya hanya untuk menonton siaran tersebut hingga usai. Menurutku tidak ada yang menarik selain tokoh-tokohnya yang sedikit aneh.
Sebagian besar tokoh-tokoh yang hampir sekarat selalu mengucapkan kalimat yang sama di akhir cerita, “Suatu hari nanti ketika aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi pohon” atau “Burung”. Aku kebingungan, sedangkan mama menangis tersedu-sedu. Lalu, apa bagusnya menjadi pohon ataupun burung? Sepertinya menjadi pohon itu membosankan, hanya berdiri di tempat yang sama sepanjang hari tanpa bisa pergi ke mana pun. Menjadi burung pun sama, aktivitasnya hanya terbang, memang kedua lengan mereka tidak lelah?
Tetapi, terkadang ucapan tokoh-tokoh tersebut ada baiknya. Mereka ingin menjadi pohon ataupun burung bukan karena mereka tidak suka menjadi manusia. Tentu saja, mereka suka. Bukankah menjadi manusia itu menyenangkan? Akan tetapi, mungkin mereka hanya ingin lepas dari beratnya menjadi manusia yang penuh dengan kepura-puraan. Mungkin dengan menjadi pohon hidup akan jauh lebih tenang. Atau ketika menjadi burung, mereka dapat terbang sejauh mungkin ke mana pun mereka mau.
Dan, aku diam-diam pun memiliki keinginan yang sama. Bila saja suatu hari nanti aku dilahirkan kembali, aku hanya ingin menjadi air. Tentunya, air yang bersih dan dapat bermanfaat untuk semua makhluk hidup. Bukan berarti aku tidak bersyukur dengan kondisiku yang sekarang. Hidup berdampingan dengan air seperti ini membuat aku merasa sangat bersyukur, karena dengan begitu aku bisa bertemu dengan Alika.
***
Namaku Mamas. Alika kecil yang memberikan nama itu untukku. Suka? Tentu saja, aku sangat menyukai nama kecil itu. Setiap kali Alika memanggil namaku, aku selalu teringat akan masa lalu, ketika kali pertama bertemu dengan gadis kecil itu.
Dulu di trotoar yang selalu ramai oleh pejalan kaki, aku menjumpai gadis kecil di depan kaca. Dia berjinjit menatapku, sebelah tangannya menunjuk aku. Dia lantas memohon kepada mamanya agar dapat memelihara aku, bahkan merengek tidak akan pulang bila tidak segera dibelikan.
Mama menurut dan pada akhirnya aku di sini. Di sebuah akuarium kecil. Di ruang keluarga Alika. Di seberang layar televisi. Aku dibeli sebagai hadiah ulang tahun Alika yang ke lima tahun. Alika sangat senang, dia menghabiskan waktu sepanjang hari bersamaku. Bermain atau kadang-kadang bercerita panjang tentang Dora the Explorer. Dan, aku sangat bahagia mendengar setiap detail cerita dari Alika kecil.
Tetapi, ternyata hidup tidak selamanya selalu bahagia. Aku pernah jatuh, sungguh. Waktu itu, mama dan papa Alika bertengkar hebat di ruang keluarga. Aku sangat takut, tetapi aku yakin bahwa Alika pasti akan jauh lebih takut dan khawatir. Benar saja, papa mengamuk dan berhasil menjatuhkan akuariumku. Rumahku. Dan seketika saja pecah, aku terlempar ke lantai. Beberapa menit kesulitan bernapas hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
“Mamas?”
Namun, Dewa Neptunus Maha Baik. Suara Alika membangunkanku dari mimpi panjang dan aku berada di ember kecil. Kali ini di kamar Alika yang tidak terlalu luas. Aku melihat Alika menangis. Benar saja dugaanku, dia ketakutan.
Tetapi, Alika tetap saja gadis kecil yang baik. Di masa-masa sulit seperti ini, dia mampu menghiburku. Dikatakannya berulang kali, bahwa besok mama akan membelikan akuarium yang baru. Aku bersyukur dan berharap mama segera membelikan akuarium itu untukku. Karena, aku tidak akan pernah tega melihat gadis kecilku kembali bersedih.
***
Benar. Tidak lama kemudian, mama membelikan akuarium yang baru. Tetapi, kali ini ukurannya jauh lebih kecil. Sedang tubuhku semakin hari semakin membesar saja. Alika juga bertambah tinggi dan cantik. Sayang, dia kadang-kadang suka lupa memberiku makan. Terkadang memberikanku makanan terlalu banyak, lain hari tidak pernah memberi makan sama sekali. Dia juga sudah jarang membersihkan akuariumku. Bermain atau sekadar bercerita pun sudah tidak pernah.
Kemarin, Alika baru saja berulang tahun. Usianya sekarang sekitar sepuluh tahun. Papa membelikan telepon pintar keluaran terbaru. Alika sangat senang, dia hampir sepanjang hari di depan layar telepon pintar tanpa merasa jenuh sekali pun. Tanpa pernah merindukanku. Sedang sepanjang hari, baik pagi, siang, petang, maupun malam, aku selalu merindukannya. Benar-benar merindukannya.
Pada akhirnya, aku sadar akan satu hal bahwa semuanya telah berubah. Kecuali, siaran televisi bertajuk Drama Korea yang tidak pernah punah di makan masa. Mama masih sering menonton, tetapi lebih sering ketiduran. Rasanya, seperti hidupku tidak akan lama lagi.
***
Dan, dugaanku lagi-lagi benar. Esoknya, mama dan papa kembali bertengkar. Tetapi, tidak semengerikan dulu, ketika akuariumku jatuh dan pecah. Kali ini, mereka sama-sama diam, hanya saling melempar kertas yang entah bertuliskan apa. Alika pun tidak memedulikan mereka. Dia hanya berdiam diri di dalam kamarnya seraya memainkan telepon pintar.
Tetapi, malam harinya aku menemukan Alika sedang menangis tersedu-sedu di depan layar televisi. Setelah pertengkaran pagi hari tadi berlangsung, tidak ada satu pun di antara mama dan papa yang pulang ke rumah. Aku yakin, Alika pasti merasa lapar dan ketakutan.
Tidak lama, tangisnya mereda. Dia lantas menatap aku lama, dan memberiku makan cukup banyak. Air matanya masih menitik sesekali. Rasanya ingin sekali menghapus air mata itu dan mengajaknya bercerita tentang Dora the Explorer lagi, tetapi rasanya tidak mungkin.
“Mamas, makan yang banyak, ya?” katanya padaku.
Aku tersenyum. Lantas segera melahap butir-butir makananku, setidaknya malam ini aku ingin membuat Alika bahagia. Meski, mungkin saja besok pagi tidak akan sama lagi. Setelah, makananku tidak tersisa satu pun, aku melihat Alika tersenyum senang. Dia segera mengusap air matanya dan membawa akuariumku entah ke mana.
Sepanjang perjalanan, aku merasa sangat bahagia karena perlakuan istimewa Alika padaku. Sepertinya, Alika sudah sangat lama tidak mengajak aku bermain. Namun, ada yang aneh. Tiba-tiba saja, Alika menumpahkan seluruh isi akuarium ke dalam wastafel. Dia mengusap badanku bersih, lantas meletakkanku di atas meja, dan segera mengambil sebuah pisau. Aku membulatkan mata, “Apa yang akan terjadi?”
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk memejamkan mata, lantas berbisik pelan pada Dewa Neptunus, “Ketika aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi seorang Ibu dari Alika. Apa pun yang akan terjadi, sesulit apa pun kondisinya, aku tidak akan pernah melepaskan genggamannya. Karena, aku tidak ingin melihat Alika tumbuh menjadi gadis yang sama di kehidupan selanjutnya. Alika, semoga kamu kenyang, Sayang.”
“Au!”
***

Komentar