Catatan Pendek: Ruang Rindu
Hari
Minggu. Setelah enam hari berkutat dengan segala macam laporan yang tidak
kunjung usai, akhirnya Minggu hadir sebagai hari pelepas penat. Serupa pelari
yang menyusuri jalanan panjang tanpa henti, namun suatu hari dua bola matanya
menangkap garis finish, dan akhirnya ...
“Arum,
temani Bapak berjemur di halaman, yaa,” kata mamak.
Aku
hampir mendesah, namun segera aku tahan mengingat aktivitas menemani bapak
berjemur sudah menjadi rutinitas mamak selama dua tahun terakhir. Setidaknya,
aku hanya menjadi pengganti di hari Minggu, selebihnya itu menjadi tugas rutin
mamak.
Bapak
sebenarnya adalah sosok lelaki pekerja keras, namun dua tahun terakhir dia
mengidap stroke, dan pada akhirnya aku beserta abang memiliki peran baru
sebagai tulang punggung keluarga. Abang memutuskan untuk melepas gelar
sarjananya dan merantau di kota orang, bekerja apa saja, asalkan halal dan
gajinya besar. Aku selalu salut dan merasa sangat bersyukur, karena abang hadir
menjadi anugerah terindah dalam hidup kami, dia benar-benar mewarisi sifat
bapak yang pekerja keras.
Aku
sendiri belum sepenuhnya, masih suka mengeluh perihal ini dan itu. Gajiku pun
belum sebagus abang, namun tetap berusaha berhemat agar uang bulananku dapat
menyokong kehidupan kami dalam sebulan penuh, termasuk pengobatan bapak.
Pernah
sekali, aku tidak menyimpan uang di dompet sepeser pun ketika berangkat
bekerja, karena sebagian besar uangku sudah diserahkan kepada mamak, dan sisanya
ditabung untuk berjaga-jaga apabila ada kebutuhan mendesak. Namun, tidak aku
sangka, ada celotehan sinis dari rekan-rekan kerjaku yang tentunya tidak nikmat
untuk disimak. Mereka tanpa sadar sesumbar tentang kondisi keuanganku yang
menipis hanya untuk membantu orang tua, namun kehidupan pribadiku sendiri sama
sekali tidak terjamin.
“Bapakmu
sudah kepanasan, tuh, Nduk,” pekik mamak.
Aku
tersadar dari lamunan panjang, tidak baik melamun pagi-pagi seperti ini, bila
mamak tahu rutinitasku di hari Minggu hanya melamun disertai keluh kesah, dia
bisa mengomel sepanjang hari liburku tanpa jeda. Gegas, aku membawa bapak masuk
dengan kursi rodanya, kemudian membawanya ke ruang tengah, ada televisi kecil
di sana. Bapak paling suka menyimak program berita sehabis berjemur seperti
ini, namun tampaknya aku sudah terlambat sepuluh menit.
“Sore
nanti jemput Abangmu di stasiun, yaa,” kata mamak.
“Lho,
Abang pulang, Mak?” tanyaku seraya mencari sosok mamak yang belum tampak juga,
dia ternyata asyik merapikan baju di belakang.
“Iya,”
jawabnya cepat.
“Ada
apa gerangan Abang pulang,” gumamku yang berujung sepi.
Seperti
yang aku bilang sebelumnya, bahwa abang benar-benar mewarisi sifat bapak yang
pekerja keras. Saking giatnya bekerja mencari uang untuk kebahagiaan keluarga
di kampung, abang tidak pernah pulang, kecuali lebaran. Sulit sekali menjumpai
sosoknya ketika aku rindu, mentok-mentoknya hanya via telepon, itu pun tidak
bisa lama, karena abang sangat sibuk. Dia tidak ada waktu untuk mendengarkan
ceritaku barang setengah jam.
Dan
selepas sore, aku bisa menikmati air muka, tawa, dan ceritanya sepuasku. Ya,
aku benar-benar bisa melepas rasa rinduku pada abang, rindu yang tidak pernah
bisa ditakar. Aku segera menilik jam dinding, masih lama. Aku sangat tidak
sabar.
***
Sebelum
berangkat ke stasiun, mamak berpesan bahwa aku jangan sampai lupa membawa
payung. Pemalang sedang musim hujan, hampir setiap sore. Karena itu, aku sudah
menyiapkan sebuah payung super besar yang insya Allah akan muat dipakai
berdua dengan abang. Sekarang baru pukul empat sore, dan belum ada kereta yang
tiba. Tetapi, bola mataku benar-benar tak ingin berhenti menilik pintu keluar-masuk
stasiun yang kini dipenuhi calon penumpang.
Tidak
lama, aku mendengar laju kereta yang kian lama kian terdengar jelas. Itu kereta
yang mengangkut abang, dengan riang aku berlari ke arah pintu keluar-masuk,
berharap penumpang yang kali pertama turun ialah abang, sosok lelaki yang
sangat aku rindukan.
“Abang?”
pekikku menggantung.
Lelaki
itu berdiri di hadapanku dengan air muka yang tidak pernah bisa aku pahami, dengan
seorang perempuan muda yang sedang berbadan dua, entah siapa perempuan itu. Aku
menatap abang penuh tanda tanya, berharap ada jawaban. Namun, dia hanya diam.
Pada
akhirnya, aku membiarkan payung super besar itu dinaungi mereka berdua, abang
dan perempuan yang entah dari mana asalnya. Aku sendiri asyik menjamah air
hujan, tidak peduli abang memintaku ratusan kali untuk bergabung bersama
mereka. Aku benar-benar sudah jenuh menerka-nerka cerita di antara mereka
berdua, biar hujan menjadi saksi kebisuan kami sore ini.
***
Malam
hari selepas kedatangan abang dan perempuan muda berbadan dua itu, aku asyik
bersembunyi di dalam kamar, menyimak apa yang mampu aku simak dari
cerita-cerita abang ba’da shalat Isya itu. Air mataku berjatuhan, dan
entah sudah kali ke berapa aku menahannya agar tidak terdengar suara isak
tangisku.
Dan,
tepat tengah malam, abang menelusup ke kamarku. Dia benar-benar berhasil
mendapatiku dalam kondisi terjaga dengan mata sembab. Sosoknya mendekat, lantas
memelukku erat dan berbisik maaf berulangkali. Dia mengaku sudah memikirkan
semua ini dengan matang-matang, dan berharap bapak, mamak, juga aku bisa
menerima keputusannya dengan lapang dada.
“Bang,
kamu bukan malaikat, ngerti?”
Aku
asyik menghakimi abangku yang memilih keputusan sok bijak ini. Bagaimana tidak,
dia memilih menikahi perempuan yang sedang hamil tanpa mencari tahu siapa ayah
dari bayi tersebut. Abang sungguh keterlaluan, dia bahkan tidak pernah
memikirkan perasaan mamak yang telah melahirkannya, serta bapak yang telah
membiayai pendidikannya hingga sarjana. Dan kini, dia seenaknya hadir meminta
restu lantas pergi selamanya?
“Ketika
Abang melihat perempuan itu, Abang langsung teringat Mamak di rumah. Dulu,
semasa Abang kecil, Mamak kesusahan mengandungmu, Dik, dia menjadi tulang punggung
keluarga selepas kepergian Ayah. Lantas, Bapak hadir dalam hidup kita, dia
mengorbankan keluarganya demi kebahagiaan keluarga kecil kita,” kata abang.
Air
mataku menitik sekali.
“Abang
bukan bermaksud melukai hati Mamak, Bapak, apalagi kamu, Dik. Sama sekali
tidak. Ini adalah bukti kasih sayang Abang yang sangat tulus kepada ciptaan-Nya
serupa kasih sayang Bapak kepada keluarga kecil kita. Tanpa Bapak, Abang tidak
akan pernah tumbuh menjadi lelaki baik, Dik. Tanpa Bapak, kamu tidak akan
menjadi perempuan setabah ini,” tuturnya.
Aku
terisak lagi.
“Meski
janin dalam rahim perempuan itu bukan milik Abang, tetapi Abang benar-benar
tidak tega bila kelak dia lahir tanpa sosok Ayah, yang suatu hari mampu
menuntunnya ke jalan yang benar. Abang memang lelaki yang jauh dari predikat
baik, namun Abang akan senantiasa berbenah menjadi baik serupa Bapak. Jadi,
mohon restui keputusan Abang, yaa, Dik?”
Jemariku
gemetar, air mataku terus berjatuhan, namun abang segera memelukku erat. Dia
mengusap puncak kepalaku perlahan, seraya berbisik, Abang tidak akan pernah
meninggalkan keluarga yang telah membesarkan Abang dengan sangat baik, jadi
jangan pernah tinggalkan Abang juga, yaa.
Sebuah
cerita akhir pekan yang belum pernah aku dengar dari siapa pun, baik mamak atau
bapak sekali pun, namun malam ini abang membuka tabir itu dengan jelas. Bahwa,
aku bukan darah daging bapak, namun bapak hadir menyempurnakan hidup kami.
Seperti yang abang katakan sebelumnya. Tanpa bapak, abang mungkin hanya lelaki
biasa yang bisa menjadi nakal sewaktu-waktu, dan aku hanya perempuan biasa yang
mudah melampiaskan amarah. Namun, berkat didikan dan kesabaran bapak, kami
tumbuh menjadi anak-anak yang baik. Benar, menghalangi keputusan abang sama
halnya dengan menghalangi proses abang dalam berbenah menjadi baik. Aku tidak
ubahnya adik yang egois, bukan?
Sebab
itu, esok aku mengikhlaskan kepergiannya. Kepergian abang untuk kembali pulang
ke tanah orang, tidak lagi hanya untuk bekerja, melainkan membina rumah tangga.
Di kampung, aku, mamak, dan bapak hanya mampu memegang janji baik-baik, bahwa
apapun yang terjadi pintu rumah kami masih terbuka lebar untuk abang tersayang,
datanglah kapan pun dia mau.
“Penuhilah
ruang ini dengan rindu-rindu, Bang, yang kelak kau peluk satu-satu dengan
kehadiranmu,” bisikku dalam peluk abang malam itu.
***
***

Komentar
Posting Komentar