Catatan Pendek: Pilu
Januari 2019 Malam belum terlalu larut, ketika lelaki jangkung itu duduk di hadapanku. Dia memesan secangkir kopi hitam yang kini tengah mengepul di samping jemarinya. Kami saling beradu pandang dalam kesunyian, serupa saling melempar isyarat tentang malam jua tentang hubungan kami berdua. Aku ragu, bila esok kami masih akan saling menyapa dari seberang telepon untuk sekadar mengucapkan selamat pagi. Sebab, ada kelabu di sepasang matanya yang menandakan bila ada sendu yang sulit ia rangkai untukku, untuk kami. Benar, beberapa waktu kemudian, tuturnya tersampaikan dengan jelas. Malam di mana aku ingin menyampaikan kabar bahagia, ia justru mengubahnya menjadi duka dan lara. Jenuh yang sudah kami maklumi selama tiga tahun terakhir ini akhirnya menemukan titik akhir. Ia mengakhiri hubungan kami berdua. Pilu, memang. Namun, harus berapa lama jenuh itu selalu kita maklumi? Bila dengan berkelana sendiri dapat membuat masing-masing di antara kami baik-baik saja, aku akan menyanggupinya...