Catatan Pendek: Pilu


Januari 2019
Malam belum terlalu larut, ketika lelaki jangkung itu duduk di hadapanku. Dia memesan secangkir kopi hitam yang kini tengah mengepul di samping jemarinya. Kami saling beradu pandang dalam kesunyian, serupa saling melempar isyarat tentang malam jua tentang hubungan kami berdua. Aku ragu, bila esok kami masih akan saling menyapa dari seberang telepon untuk sekadar mengucapkan selamat pagi. Sebab, ada kelabu di sepasang matanya yang menandakan bila ada sendu yang sulit ia rangkai untukku, untuk kami.
Benar, beberapa waktu kemudian, tuturnya tersampaikan dengan jelas. Malam di mana aku ingin menyampaikan kabar bahagia, ia justru mengubahnya menjadi duka dan lara. Jenuh yang sudah kami maklumi selama tiga tahun terakhir ini akhirnya menemukan titik akhir. Ia mengakhiri hubungan kami berdua. Pilu, memang. Namun, harus berapa lama jenuh itu selalu kita maklumi? Bila dengan berkelana sendiri dapat membuat masing-masing di antara kami baik-baik saja, aku akan menyanggupinya. Pun bila esok aku harus siap kehilangan dering telepon darinya, aku sungguh tidak apa-apa.
Lalu, ia berlalu dari pandanganku. Meninggalkan secangkir kopi hitam yang tidak lagi mengepul, juga perasaan di antara kami yang tidak lagi ada. Sedang, aku masih duduk di tempat yang sama, menggenggam ponsel yang layarnya dibiarkan menyala sembari terisak dalam diam. Ternyata, mengiyakan cerita cinta di antara kami untuk berakhir benar-benar menyakitkan. Selamat tinggal.
***
Januari 2020
Sebelum memutuskan untuk kembali pulang, aku sengaja menghentikan laju mobil di depan pelataran Gramedia, sekadar ingin memastikan, masih adakah buku-buku tulisanku yang tersisa di rak? Mengingat, pihak penerbit mengatakan bila buku karanganku akan dicetak untuk yang kedua kalinya dengan design cover yang berbeda. Sehingga, rasanya sangat perlu untuk membawa pulang beberapa buku cetakan pertama untuk teman baikku di rumah.
Dan, sepanjang perjalanan menuju rumah, aku dan teman baikku—Fia—asyik berbincang dari seberang telepon. Ia mengatakan bila dalam waktu dekat akan ada meet up dengan teman-teman semasa kuliah dulu. Tentu, tidak semuanya hadir. Hanya teman-teman dekat saja, seperti ia, Hanggi, Ven, dan aku. Paling, kami hanya menghabiskan waktu barang sebentar di sebuah kedai kopi sembari mengulas masa lalu, dan menertawakan serentetan pertanyaan dari orang-orang tentang kapan kami akan mengakhiri masa lajang.
Klise. Dan, membosankan.
***
 Aku mematut diri di depan cermin. Sedang ponselku asyik berdering beberapa kali. Sepertinya aku terlambat datang ke kedai kopi malam ini. Bukan, bukan karena nyaman bersembunyi di balik selimut dan libur panjang, melainkan karena dua jam sebelumnya sempat ada rapat mendadak dengan tim editor untuk karanganku berikutnya.
Biarlah kopi yang Fia pesan untukku telah dingin, Ven yang marah-marah tidak jelas, atau Hanggi yang sudah sangat bosan menunggu manusia super sibuk seperti aku terlambat datang. Yang jelas, aku tidak datang dengan tangan kosong. Tiga buku karanganku dari cetakan pertama sudah aku masukkan ke dalam totebag. Tentu, buku-buku tersebut akan sukses menepis amarah dan rasa bosan mereka.
Namun, ternyata dugaanku salah.
Sesampainya di kedai kopi, aku belum juga menemukan sosok Fia, Hanggi, maupun Ven yang memiliki gaya busana nyentrik. Alih-alih langsung menyeruput kopi, aku justru harus menunggu pesananku tiba. Aku beberapa kali menilik arloji di pergelangan tangan kiri, sudah larut. Namun, mereka tidak kunjung tiba. Hingga aku memutuskan untuk melihat notifikasi group kami. Dan, benar saja. Ketiganya berhalangan hadir, karena “sibuk” yang datang tiba-tiba.
Aku mendengus kesal, sedang kopi pesananku sudah ada di atas meja. Karena tidak ingin waktuku terbuang sia-sia, aku kembali melihat notifikasi, berharap ada sesuatu yang bisa aku kerjakan terkait naskah berikutnya yang sedang dalam garapan tim editor. Tetapi, hasilnya nihil. Aku sedang senggang sekarang.
Ah, benar. Saat ini tugasku hanya satu, menghabiskan secangkir kopiku, lalu pulang ke rumah. Namun, belum juga kopi itu aku teguk, seorang lelaki jangkung menyapaku dari seberang. Aku terperanjat. Bukan, bukan karena suara beratnya, melainkan karena hadirnya berhasil membuka luka lama yang rupanya belum kunjung sembuh. Seseorang yang memutuskan untuk mengakhiri sebuah cerita di bab pertengahan, karena bosan. Mantan.
“Kamu Badira, ‘kan?”
Aku mengangguk.
“Sendirian?”
“Ya.”
“Boleh duduk?”
Aku mengatur napas. Ra, kamu harus berpikir jernih. Lelaki yang berdiri di depanmu sekarang ini memang bukan orang asing, tetapi setidaknya jangan sampai kehadirannya membuat sakitmu semakin parah. Ya, aku harus sembuh. Tapi ...
Aku mengangguk, bodoh sekali.
Lalu, tidak lama meja kami berisi dua cangkir kopi yang saling berhadapan. Seperti kami sekarang ini. Tidak banyak yang kami bincangkan, selain menanyakan kesibukan satu sama lain. Yang aku tahu, selain ia masih sibuk freelancer sebagai seorang ilustrator, saat ini ia tidak lagi sendiri. Ya, ia sudah menepis rasa bosan itu dengan mengisi ruang hatinya yang kosong dengan seseorang yang baru. Entah, siapa.
Dan, kami asyik menertawakan kebodohan hubungan kami dulu. Tentang kami yang saling memupuk rasa bosan, dan menunggu salah satunya memutuskan untuk beranjak pergi. Namun, tawa itu dengan cepat berubah menjadi tangis. Benar, aku sedang tidak baik-baik saja. Hadirnya hanya menambah lara.
***
Esok, lusa, dan beberapa hari setelahnya, lelaki itu aktif berkabar via WhatsApp. Mengucapkan selamat pagi, seperti sebelum kami berpisah. Tanpa sadar, ia telah mengabaikan seseorang yang sedang sabar menjaga hatinya. Padahal, malam itu ketika dirinya hadir, tidak pernah sekali pun bibir ini memintanya untuk singgah. Tetapi, malam ini dengan jelas ia mengatakan agar aku tetap ada di sisinya dari seberang telepon.
“Jangan pergi.”
“Yo? Kita sudah selesai.”
“Tapi, aku masih sayang kamu, Ra.”
Aku mengatur napas.
“Jangan, Yo.”
“Karena?”
“Karena, ketika kamu pergi itu sudah menjadi bab akhir dari cerita kita.”
Klik. Aku mematikan panggilan segera.
Lantas, selepas obrolan kami berakhir, aku menangis sepanjang malam. Mengenang kisah di antara kami. Entah, mungkinkah karena luka yang ia tinggalkan begitu dalam ataukah aku yang masih sangat mencintainya? Namun, sungguh sangat tidak adil, bila aku mengiyakan permintaannya untuk tetap singgah. Aku hanya tidak ingin menciptakan luka untuk diriku sendiri, juga untuk kekasihnya. Jadi, selamat tinggal, Rio.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pendek: Radio

Sulli Eks f(x) Bunuh Diri, ini 3 Prestasinya yang Gugur dari Ingatan Netizen

Catatan Pendek: Kapten Alit