Catatan Pendek: Alisa (2)


( 2 )
Perjuangan yang Telah Usai


Langit masih belum menggelap. Tetapi, lampu-lampu di pelataran cafe sudah berpijar sejak lima menit yang lalu. Di sudut pelataran terdapat sebuah pohon pucuk merah yang tingginya berkisar anak kelas enam SD, serta sebuah meja kecil dengan dua kursi yang saling berhadapan. Dua orang sedang duduk di sana dengan air muka serius.
“Sudah satu bulan,” ucap seorang lelaki.
Gadis di hadapannya bergumam, dia tampak mengerti jika satu bulan belakangan ini situasinya menjadi semakin rumit. Semenjak kepergian bunda, mereka kehilangan kabar dari Alisa. Dia bahkan sulit ditemukan di rumahnya sendiri. Entah, Alisa ada di mana. Tidak pernah ada yang tahu mengenai nasib gadis itu.
“Pasti sangat berat kehilangan seorang Bunda di usia remaja seperti Alisa. Apalagi, Bunda adalah teman sekaligus orang tua yang baik bagi Alisa semasa hidup. Dia pasti sangat terpukul. Jujur, aku ingin menghiburnya. Tapi, entah dia ada di mana,” jelas gadis itu, sendu.
Lelaki di hadapannya berdalih pada langit. Mungkin, ini yang disebut senja, langit tidak menggelap namun dipenuhi warna jingga. Dulu sekali, Alisa pernah mengatakan bahwa senja itu indah. Karena itu, jangan pernah menangis ketika senja tiba. Pamali.
Mungkin saja, sebentar lagi beberapa muazin sedang bersiap mengumandangkan adzan Maghrib. Lelaki itu tampak tidak ingin berlama-lama di pelataran cafe. Lagi-lagi pencariannya tidak membuahkan hasil. Kabar tentang Alisa tetap kosong, mengecewakan. Tetapi, dia tidak akan pernah menyerah. Dia akan tetap mencari Alisa dan menghibur hatinya yang sedang meresah, gundah.
“Kak Bayu, tolong bawa Alisa pulang, ya?” pekik seseorang sebelum lelaki itu benar-benar melangkah pergi dari pelataran cafe.
“Insya Allah, Diana.”
***
Pukul dua siang. Pemakaman masih sangat sepi. Namun, tampak seorang gadis berdisi di samping pusara. Entah, pusara siapa. Mungkin ayah atau ibunya. Dia tidak membawa apapun untuk diletakkan di atas pusara. Hanya berdiri di sana, bergeming, tanpa melakukan apa-apa.
“Alisa?” gumam seorang lelaki yang tampak mengenali gadis itu.
Rupanya, gadis bernama Alisa itu mendengar. Dia menoleh, malas. Dan didapati seorang lelaki yang berdiri memandangi Alisa dari balik punggungnya. Alisa terkejut. Seperti baru pertama kali melihat lelaki itu di hadapannya.
“Ini saya, Alisa. Bayu,” ucap lelaki itu.
Lelaki bernama Bayu lantas mendekati Alisa. Jaraknya yang kini tidak lagi berjauhan terasa jauh lebih kelu. Alisa tidak mau berkata, sedang Bayu tidak tahu bagaimana cara menghibur gadis di hadapannya dengan cara yang wajar. Bayu tidak mungkin memeluk Alisa, atau sekadar menepuk bahunya, sedang mereka dalam kondisi bukan mahram.
“Al ...”
“Alisa tidak bisa menikah, Mas,” ucap Alisa tiba-tiba, “Bunda sudah tiada, tak ada lagi hal yang perlu diperjuangkan. Maaf. Insya Allah, Alisa akan segera mengabari Ustadzah Nurmala perihal ini,” lanjutnya sungguh-sungguh.
Penjelasan Alisa yang menggantung bagaikan pisau yang menghujam raga Bayu. Hanya meninggalkan lara, namun raganya tidak mati. Jujur, Bayu tidak ingin memutuskan ta’aruf dengan cara seperti ini, namun dia juga tidak bisa menolak permintaan Alisa yang benar-benar tidak ingin melanjutkan kisah keduanya ke ranah yang lebih jauh.
“Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi, Sa?” Bayu tampak memohon.
Alisa menunduk. Lagi-lagi dia memilih diam.
“Alisa sudah melaksanakan shalat istikharah, dan pada akhirnya ini menjadi pilihan terbaik. Maafkan saya, Mas. Tapi, Alisa benar-benar tidak mau melanjutkan hubungan ini ke ranah yang lebih rumit,” jawab Alisa.
“Baik, saya terima keputusanmu.”
Jika benar ini adalah kehendak Allah, Bayu tidak ingin merumitkannya seperti yang Alisa katakan. Meski hatinya sulit menerima itu, tetapi sejak awal dirinya memang tidak pernah sungguh-sungguh menggenggam jemari Alisa, karena itu dia harus bersedia jika pada akhirnya pergi menjadi pilihan terbaik bagi gadis itu.
Bayu hanya bisa berharap, bahwa Alisa tidak akan menyerah akan hidupnya. Cukup rasa yang dia korbankan, namun mimpi-mimpinya yang begitu bijak jangan sampai terabaikan. Karena, ada satu hal lain yang harus Alisa perjuangankan, dan Bayu yakin Alisa tahu itu.
Dan pada akhirnya, perjuangan Bayu untuk menemukan Alisa telah usai.
***

Komentar