Catatan Pendek: Kapten Alit
Namaku
Alit. Hanya Alit tanpa embel-embel apapun di belakangnya. Sekali lagi, benar-benar
hanya Alit yang terdiri dari huruf A, L, I, dan T. Ketika aku tanyakan pada ibu
perihal namaku yang terlalu singkat, beliau hanya menjawab dengan senyuman
manis, lalu enggan memberikan jawaban lain yang setidaknya dapat membuat aku merasa
lega ataupun berbesar hati.
“Alit
itu artinya kecil. Masa kau tidak tahu?” seru temanku.
Aku
berkacak pinggang, kesal. Masa, sih, ibu memberikan aku nama sejelek itu?
Hanya berarti kecil, yang mana tidak memiliki arti spesial. Memang, bila
dibandingkan dengan saudara-saudaraku yang lain, aku memiliki postur tubuh
paling kecil. Kecil juga bukan berarti gesit, realitasnya aku selalu kalah
cepat dalam hal lari maupun terbang dari teman-teman sejawatku yang lain.
Lalu,
aku bertanya lagi pada ibu.
“Bu,
benarkah Alit artinya kecil?” tanyaku.
“Memang
benar, Sayang. Tetapi, nama Alit tidak selalu bermakna kecil. Kau itu anak yang
pandai, ingatkah dulu siapa yang paling pandai bersembunyi? Siapa lagi bila
bukan Alit. Lihatlah, Ageng dan saudara-saudara Alit yang lain. Bukankah mereka
selalu kesulitan mencari Alit? Alit juga bisa bermakna pelindung, Ibu yakin
suatu hari nanti Alit akan menjadi anak yang dapat melindungi Ayah, Ibu, dan
juga saudara-saudara yang lain. Karena itu, Alit harus selalu percaya bahwa
Alit adalah anak yang hebat. Mengerti?” jawab ibu.
Ibu
memang luar biasa. Aku cukup berbangga diri dan merasa sangat percaya diri
ketika bertemu dengan teman-teman sejawat lagi. Mereka menertawakan Alit
kecil? Tidak apa-apa, lagi pula kecil itu hebat. Ibu bilang, suatu hari
nanti aku akan menjadi pelindung untuk keluarga. Jadi, aku tidak boleh patah
semangat.
“Hebat
dari mana? Tubuhmu memang kecil, tapi terbang tinggi saja tidak bisa. Apalagi
merayap di dinding. Aku yakin, kau sekali merayap langsung mati!” seru temanku.
Aku
berkacak pinggang, lagi-lagi kesal. Mengapa mereka tidak pernah bosan
menggodaku? Padahal sudah jelas-jelas aku katakan pada mereka, bahwa nama Alit
memiliki makna lain selain kecil, apalagi bila bukan hebat? Ibu sudah
mengatakan itu berulang kali. Tetapi, aku kini tidak bisa lagi mengadu pada
ibu, beliau telah wafat akibat terkunci di kamar mandi yang telah disemprot
dengan cairan, entah bernama apa.
Aku
mendengus. Mungkin benar juga, aku ini payah. Seandainya, aku memang
benar-benar anak yang hebat, mungkin ibu masih bisa terselamatkan. Sayangnya,
aku terlalu lemah untuk membuka pintu kamar mandi dan menyelamatkan beliau.
***
“Mati!
Mati! Mati!” seru penduduk negeri.
“Siapa
yang mati?” seru yang lain.
“Hari
ini Raja kita telah mati. Kemarin, dua jenderalnya. Jika hal ini terus terjadi,
lalu siapa yang akan menyelamatkan nyawa kita? Raja telah tiada, kita sudah tidak
memiliki siapa-siapa lagi.”
Raja
mati? Aku bergidik ngeri. Memang, belakangan hari ini
beberapa penduduk negeri kami mati secara tiba-tiba dan mengenaskan. Ada yang
terkena semprot, seperti halnya ibu. Selain itu, sebagian lainnya mati dengan
kondisi tubuh tidak utuh. Informasi yang beredar, mereka dibunuh dengan cara
yang sadis, yakni dengan ditampar menggunakan benda serupa alas kaki yang biasa
digunakan oleh manusia pada umumnya.
Aku
benar-benar takut, bagaimana bila aku menjadi target berikutnya? Bukan tidak
mungkin, teman-teman terus memanggilku Alit si kecil yang payah, bisa jadi aku
memang benar-benar menjadi target berikutnya. Selain tidak gesit, aku pun tidak
pandai terbang. Jadi, untuk apa berbangga diri terus menerus, bila aku pada
akhirnya akan bernasib sama seperti mereka; mati, lalu berakhir di tempat
sampah.
Pagi
harinya, aku melihat ayah dan saudara-saudaraku yang lain berkemas. Mereka
seperti akan pergi jauh tanpa sepengetahuanku. Entahlah, mungkin saja mereka
malas membawaku, karena aku payah. Tidak pandai berlari ataupun terbang tinggi,
jadi bila aku mati, mereka pun akan mati. Membayangkannya saja sudah membuatku
merinding bukan main, aku ini makhluk apa sampai tidak ada guna seperti ini?
“Ayah
akan pergi?” tanyaku.
“Ya.
Ayah dan saudara-saudaramu yang lain akan berusaha menyelamatkan negeri kita.
Bila Raja telah mati, lalu haruskah kita juga ikut mati? Setidaknya kita harus
berjuang keras, agar sebagian besar dari kita tetap hidup dan membentuk koloni
baru. Ini bukan saatnya bagi kita untuk punah,” jawab ayah.
“Lalu,
bagaimana denganku?”
“Kau
... ya, kau bersembunyi saja. Sebaiknya, kau jangan keluar dulu. Di luar sangat
tidak aman. Kau bisa mati. Tetaplah di sini, dan tunggu sampai kami benar-benar
kembali.”
“Tapi,
Ayah-“
“Ingatlah,
aku benar-benar tidak ingin kau bernasib sama seperti Ibumu.”
Aku
menitikkan air mata seraya melambaikan dua belah tangan. Dalam hati, aku selalu
berdoa agar ayah, saudara-saudaraku, dan semua yang berjuang di luar sana dapat
kembali dengan air mata haru bahagia. Karena, mereka berhasil memenangkan
pertarungan sengit ini. Untuk sekarang, aku akan mendengarkan ayah. Aku akan
tetap berada di dalam rumah, bersembunyi, walau kadang sesekali mengintip dari
balik jendela, berharap mereka baik-baik saja.
***
“Satu,
dua, tiga, lima ...”
Aku
sedang menghitung pasukan kami yang telah mati lebih dulu. Dengan harap-harap
cemas, semoga tidak ada ayah ataupun saudara-saudaraku di antara lima pasukan
itu. Lalu, aku akhirnya benar-benar bernapas lega, ketika kelima pasukan itu
tidak ada satu pun yang berwajah serupa dengan ayah ataupun saudara-saudaraku.
Setidaknya, Tuhan masih berbaik hati dengan makhluk-makhluk kotor yang selalu
disebutkan manusia itu.
“Kecoa
sialan!!”
Entah,
untuk kali ke berapa, aku mendengar manusia itu berteriak lantang seraya
mengibaskan alas kaki sesuka hati. Bunyi alas kaki yang beradu dengan dinding
atau pun lantai terdengar sangat keras, sehingga membuat jantungku berdetak
jauh lebih cepat dari rima yang sebenarnya. Terkadang, aku benar-benar tidak
berani, walau hanya sekadar melihat dari balik jendela. Semua yang terjadi di
luar sana begitu menyesakkan. Karena, ada beberapa bagian organ tubuh yang
putus, seperti tangan, kaki, ataupun sayap.
Lalu,
pada masa-masa seperti ini, aku biasanya memilih bersembunyi di lorong paling
dalam. Berharap semakin dalam lorong yang aku jamah, semakin mudah bagiku untuk
tidak mendengar suara-suara menyesakkan itu dan semakin sulit bagi
manusia-manusia itu menemukan keberadaanku.
“Kau
pengecut! Sampai kapan kau akan terus bersembunyi seperti itu?”
Aku
mendengus, kesal. Mengapa di masa-masa sulit seperti ini, aku justru
terngiang-ngiang candaan teman-teman sejawat. Kira-kira, apa yang mereka
lakukan saat ini? Mungkinkah mereka bersembunyi seperti aku ataukah sebaliknya;
mereka menjadi salah satu pasukan yang berusaha memusnahkan manusia? Entahlah.
“Alit
juga bisa bermakna pelindung, Ibu yakin suatu hari nanti Alit akan menjadi anak
yang dapat melindungi Ayah, Ibu, dan juga saudara-saudara yang lain. Karena
itu, Alit harus selalu percaya bahwa Alit adalah anak yang hebat.”
Aku
juga terngiang-ngiang akan ucapan ibu kala itu. Aku menyesal, karena telah
gagal melindungi ibu. Dan haruskah aku merasakan penyesalan untuk kali kedua?
Tidak, aku tidak boleh melakukan itu. Aku harus percaya, bahwa aku adalah anak
yang hebat. Aku tidak boleh terus menerus bersembunyi seperti ini, aku harus
menyelamatkan negeriku. Aku harus menyelamatkan ayah, saudara-saudaraku,
teman-temanku, dan seluruh penduduk negeri ini. Ya, aku harus ikut berjuang!
Lalu,
aku bergegas berlari ke area depan. Lagi dan lagi melihat situasi di luar sana,
mungkinkah aman ataukah sebaliknya? Aku pun tidak boleh gegabah dalam mengambil
keputusan, tetapi bila pada akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari sarang
persembunyian, apakah yang harus aku lakukan?
“Alit,
kau itu payah. Tubuhmu memang kecil, tapi terbang tinggi saja tidak bisa.”
Aku
terdiam sejenak. Ya, aku memang tidak pandai terbang tinggi, tetapi aku pandai
bersembunyi. Jadi, aku harus memiliki strategi yang pas agar aku bisa memusnahkan
manusia itu dengan cepat. Aku berpikir lagi barang sejenak.
***
“Alit?
Kau ... apa yang kau lakukan di sini? Tempat ini berbahaya, kau bisa mati,”
ayah dan teman-teman yang lain berteriak ke arahku.
Aku
tidak menghiraukan. Segera, aku mengepakkan sayap-sayapku, lantas terbang
merendah seraya bersembunyi di balik benda-benda besar yang berada di sekitar
ruangan tersebut. Tidak lama, aku menangkap ada sesuatu yang berjalan ke
arahku. Dia berwarna putih, tinggi, dan besar. Mungkinkah itu yang bernama
manusia? Bila benar, aku harus segera bertindak. Cepat atau lambat, aku akan
segera melenyapkan dia.
Gegas,
aku kembali mengepakkan sayap-sayapku. Terbang merendah ke arahnya,
mengelilingi kakinya. Lalu, diam-diam aku terbang meninggi, menerobos ruang gelap.
Tidak lama kemudian, aku menjamah kulit mulusnya. Dia tampak bergoyang ke kanan
dan ke kiri, sebelah tangannya asyik mencari-cari tubuhku. Beberapa kali, aku
mendengar dia berteriak kencang ketakutan. Mungkin saja, dia merasa jijik
dengan kehadiranku di sela-sela kakinya. Dan sebelum sebelah tangannya berhasil
menepuk punggungku, aku memantapkan aksi jituku; apalagi bila tidak menggigit.
Ya, aku menggigit sebelah kakinya. Dia berteriak kesakitan, lalu entah mengapa tiba-tiba
kakinya tergelincir, dia jatuh, tubuhnya melemah, lalu sekarat.
Aku
bergegas mengepakkan sayap-sayapku lagi, lalu keluar dari ruang gelap itu. Lega
rasanya telah melancarkan aksi jitu yang selama ini hanya menjadi bahan
khayalanku. Di luar sana, aku melihat ayah, saudara-saudaraku, teman-temanku,
dan seluruh pasukan negeri yang berdiri rapi. Aku kikuk, tetapi tiba-tiba
senyum mereka mengembang. Tidak lama kemudian, mereka berbondong-bondong
menyerbuku; mengangkatku, lantas melemparku ke atas.
“Hidup
Kapten Alit! Hidup Kapten Alit!”
“Hidup
Kapten Alit! Hidup Kapten Alit!”
“Hidup
Kapten Alit! Hidup Kapten Alit!”
***

Komentar
Posting Komentar