Catatan Pendek: Radio
Jakarta,
2018
“Kapan
kalian terakhir kali mendengarkan radio?”
Gadis
di bangku ujung tampak malas mendengarkan gagasan demi gagasan dari wali
kelasnya, dia memilih larut dalam rutinitas; mengenakan earphone, masuk
ke App JOOX, dan memutar Recently Play. Nyaman. Sedang teman sebangkunya—Tara,
mendengarkan penjelasan wali kelas dengan seksama. Seperti biasa, Tara selalu
beranggapan bahwa wali kelasnya memiliki jiwa Mario Teguh yang luar biasa.
“Dewi?”
Tara menepuk lengan teman sebangkunya.
Gadis
yang duduk di bangku ujung itu bernama Dewi. Dia adalah sahabat baik Tara sejak
duduk di kelas satu SMU. Sebagian besar teman-temannya berpikir bahwa Dewi
adalah seorang lesbian, karena prinsip uniknya yang tidak masuk akal. Ditambah lagi
akan obsesinya dengan menggambar design pakaian wanita, semakin membuktikan
bahwa dia benar-benar lesbian. Namun, Tara berpikir sebaliknya. Tiga tahun
duduk di samping Dewi, dia sangat mengenal tabiat buruk maupun baik dari gadis
cantik itu. Sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat dari seorang Dewi merupakan
contoh kecil dari tabiat baik yang disebut prinsipil.
Sifat prinsipilnya itu yang membuat Dewi
dikenal keras kepala. Bahkan tentang hubungannya dengan lelaki bernama Rio. Ketika
mantan ketua OSIS itu mengungkapkan isi hatinya pada Dewi, dia justru enggan
menerima dan lebih memilih menjalin Hubungan Tanpa Status. Jelas saja, itu
menguntungkan bagi Dewi, tetapi tidak bagi Rio.
Atau
tentang sepedanya. Di zaman millenial seperti ini, siapa lagi yang berangkat ke
sekolah naik sepeda selain Dewi? Sepertinya, hampir tidak ada. Selain norak dan
menguras banyak tenaga, seragam sekolahnya pun akan cepat bau karena produksi
keringat yang berlebih. Sayang, tidak ada yang bisa merobohkan dinding keras
kepala Dewi. Rio bahkan Tara sekali pun, mereka sudah menyerah sejak lama.
***
“Dewi,
gue sudah tahu akan jadi apa gue di masa depan,” celetuk Tara, “Penyiar radio!
Gue kayaknya bakalan cocok, deh, jadi penyiar radio. Iya, nggak, sih?”
“Gila!
Lo beneran kemakan omongan Pak Rudy? Jadi penyiar radio? Ra, mendingan lo kerja
di butik Mama gue saja, deh. Dengan gitu, kita ‘kan bisa bareng-bareng terus,”
jawab Dewi, bersungut-sungut.
“Gitu?”
Dewi
mengangguk.
“Ya,
sudah, deh. Nanti gue pikir-pikir lagi,” gumam Tara.
Lantas,
Dewi kembali melakukan rutinitasnya, apalagi bila bukan memutar ulang Recently
Play di App JOOXnya. Kali ini lagu EXO berjudul Ko Ko Bop yang menari-nari
di kedua telinganya. Dia semakin bersemangat hari ini.
Sedang
Tara, dia asyik mengedarkan pandangan ke lapangan basket yang berada tepat di
bawah ruang kelasnya. Tanpa sengaja, dia mendapati Rio sedang bersenda gurau
dengan seorang gadis yang entah siapa namanya. Tara tampak kesal.
“Dew,
hubungan lo sama Rio apa kabar?” tanya Tara, penasaran.
Dewi
segera melepas earphone yang bertengger di telinga kanannya. “Baik.”
“Lo
beneran gapapa kalau sampai Rio jalan sama cewek lain, secara lo sama dia ‘kan
nggak ada ikatan apa-apa?” Tara semakin penasaran.
“Ya,
gapapalah, Ra. Itu ‘kan hak asasi Rio mau jalan sama siapa saja. Yang penting,
dia nikahnya sama gue, haha,” jawab Dewi, riang. Dia lantas kembali meletakkan earphone
di telinga kanannya, bersenandung ria.
Selain
Rio, tampaknya salah satu siswa di kelas mereka juga diam-diam menyimpan rasa
untuk Dewi. Gelagatnya terlihat jelas, namun Tara pura-pura tidak tahu, dan
sepertinya Dewi pun akan merasa sangat tidak nyaman jika tahu perihal itu.
Menyebarnya berita buruk yang mengatakan bahwa Dewi seorang lesbian, tidak
menyurutkan langkah Alka—nama siswa itu—untuk melancarkan jurus jitunya.
Dia
tampak menimang-nimang sebuah kotak cokelat sejak tadi pagi, padahal ini masih
Desember. Lelaki yang dikenal Dewi sebagai ketua kelas dan siswa teladan di
kelasnya ini tampak sama seperti siswa-siswa lain. Tidak ada yang spesial,
sehingga Dewi tidak menaruh curiga apapun. Dia hanya berpikir kebaikan Alka
belakangan ini, karena tanggung jawabnya sebagai pemimpin di kelas yang mana
harus memiliki sikap peduli pada setiap anggotanya.
Akhirnya,
bel pulang yang ditunggu Alka sejak sepuluh menit yang lalu berdentang juga.
Dia bergegas merapikan buku-buku di atas meja, lalu meraih satu kotak cokelat
yang dia simpan di laci mejanya. Ini waktunya, Dewi kamu harus jadi pacarku!
Gegas,
dia bangkit dari duduknya, dan berbalik ke belakang, namun BRUK!! Dewi yang
sedang tergesa-gesa tidak sengaja menyentuh bahu Alka sehingga membuat kotak
cokelat di genggaman Alka itu terlempar ke lantai. Dengan rasa sangat bersalah,
Dewi memungut kotak cokelat itu dan memberikannya kepada Alka.
Alka
membulatkan mata.
“Alka,
sorry banget, gue nggak sengaja. Lagi buru-buru,” celetuk Dewi, dia
lantas melirik kotak cokelat yang kini berada di genggaman Alka, “By the
way, sukses, ya. Dah!”
Alka
menatap kepergian Dewi penuh sesal, kenapa harus hari ini, sih, nubruknya?
Dia lantas melirik kotak cokelatnya, lagi-lagi dengan perasaan penuh sesal, lain
kali harus bisa. Gegas, dia memasukkan kotak cokelat itu ke dalam tasnya,
lalu melenggang pergi ke luar kelas.
***
“Rio
di mana, ya, apa dia lupa?” Dewi bergumam di pelataran tempat parkir.
Dewi
sudah berdiri di sana sejak lama, namun Rio tidak kunjung datang. Mungkinkah dia
lupa akan janji semalam? Bila diingat-ingat, semalam bukan Dewi yang mengajak
Rio bertemu di sini, melainkan Rio yang mengatakan ingin mengajak Dewi makan
mie ayam di depan gedung sekolah mereka. Tetapi, dia terlambat.
“Atau
ada les?”
Dewi
sampai lupa bahwa jadwal les antara kelas dia dan Rio berbeda, mungkin saja
hari ini di kelas Rio sedang ada pemadatan materi, namun Rio lupa memberi
kabar. Akhirnya, Dewi memutuskan untuk menunggu di depan kelas Rio.
Namun,
setelah sampai di kelas, Dewi tidak menemukan siapa pun. Hanya sepasang kekasih
yang sepertinya sedang asyik berpacaran di kelas. Lalu, ke mana Rio pergi? Dewi
menimang-nimang, lama. Mungkinkah dia harus bertanya pada sepasang kekasih di
kelas itu? Tetapi, dia merasa tidak enak, takut mengganggu.
Dewi
melirik ke dua sejoli itu. Si lelaki asyik menyibak rambut panjang perempuan,
namun seperti ada yang tidak asing. Jam tangan yang melingkar di pergelangan
lelaki itu seperti milik seseorang yang dia kenal. Mungkinkah lelaki itu?
“Rio?”
Lelaki
itu berbalik, tidak terkecuali perempuan di hadapannya. Rio tampak memandang
kaku ke arah Dewi, matanya membulat, dan tubuhnya mendingin. Dengan kejadian ini,
Dewi mungkin saja cemburu atau kemungkinan terbesar dia akan sangat marah pada
Rio. Gegas, Rio menghampiri Dewi.
“Dew,
aku,” gumam Rio.
PLAK!!
“Thanks,
Yo, sudah kasih tahu sejak awal, seenggaknya gue nggak akan nunggu lo lebih
lama lagi,” ucap Dewi, air matanya lantas menitik, “Jangan hubungi gue lagi.”
Gegas,
Dewi melenggang pergi. Dia berulangkali mengusap air matanya yang tidak kunjung
berhenti menitik. Sungguh, seharusnya tidak ada sesal yang mengganjal dan
seharusnya tidak ada luka yang begitu menyesakkan dada. Bukankah itu
konsekuensi dari Hubungan Tanpa Status? Dewi menghentikan langkahnya sejenak,
dia sesenggukan. Tetapi, dia sangat menyayangi Rio.
Dewi
kembali berjalan, meraih sepedanya, lalu mengayuh dengan kecepatan penuh. Entah
mengapa, kejadian ini membuat dia sangat membenci Rio, juga membenci dirinya
sendiri. Bila dia tahu sejak awal konsekuensi dari Hubungan Tanpa Status
sesakit ini, dia tidak akan pernah meraih jemari Rio, dulu.
Tetapi,
semuanya sudah terlambat. Dewi yang egois. Rio mungkin saja sudah jenuh dengan
hubungan tidak lazim ini, menunggu mereka tumbuh dewasa lalu menikah bukanlah
hal yang mudah. Apalagi, usia mereka belum genap delapan belas tahun, harus
berapa lama lagi mereka menyengsarakan diri dalam sebuah penantian yang tidak
pasti?
Dewi
kembali sesenggukkan, air matanya tidak berhenti juga, ia mengusap kedua
matanya lagi dan lagi. Hingga, tanpa dia sadari, mobil sedan di depannya telah
menghantam tubuhnya. Dia terguling lemah, seperti orang pesakitan, air matanya
masih tetap menitik di sore yang suram itu. Lalu, langit tampak menghitam, dia
melemah.
***
Jakarta,
2022
Dewi
berbaring malas di atas ranjang. Lagi dan lagi, sepasang earphone asyik
bertengger di kedua telinganya, irama musik mengalir dan menari-nari penuh
kebebasan. Dia tersenyum lagi, lalu beberapa detik kemudian tertawa
keras-keras. Bagaimana tidak, suara bebek dari penyiar radio itu ikut
melantunkan lirik lagu dari melodi yang sedang diputar. Jelek, tetapi dia
sangat menyukainya.
Tidak
lama kemudian, dia tampak terkejut dengan kehadiran seseorang di sampingnya, rambutnya
yang tergerai tampak dibelai lembut, lantas sebelah earphonenya ditarik
paksa. Dia bergeming, seperti sedang menerka-nerka sosok di sampingnya yang
seperti sengaja tidak ingin bersuara.
“Mama?”
“Ahaha,
ini gue Tara! Masa sama sahabat sendiri nggak ngenalin, sih, Dew,” pekik Tara,
tawanya renyah mengejutkan Dewi. Mereka lantas terkekeh bersamaan.
“Gimana
kerja di butik Mama, suka?” tanya Dewi.
“Suka
banget, karena gue akhirnya bisa bareng-bareng lo terus,” jawab Tara penuh
semangat, “Dew, gue janji, gue nggak akan pernah ninggalin lo. Forever.”
“Jadi
ingin ngecup, lo,” gumam Dewi.
“Lo
masih normal, ‘kan, Dew?”
Mereka
kembali terkekeh.
***
Dewi
duduk di lobi. Dia lagi-lagi bertanya perihal waktu pada petugas yang berjaga, atau
perihal kapan si Dewa Fortuna selesai siaran. Namun, jawabannya selalu sama;
sebentar lagi. Sedang dia sudah mati kutu, karena gugup menunggu seseorang yang
sangat ingin dia jumpai sejak lama.
Sebenarnya,
Tara sempat ingin menemani, namun Dewi menolak dengan alasan butik mama sedang
ramai menjelang hari lebaran. Akhirnya, Tara menurut dan lebih memilih bekerja
ketimbang menemani sahabat baiknya pergi ke radio. Tetapi, Tara beberapa kali
menelepon karena khawatir.
“Gue
baik-baik saja, Ra. Ini bentar lagi juga ketemu. Sudah dulu, ya?” Dewi segera
menutup telepon, ketika suara yang terdengar tidak asing menyapa dirinya.
Dewi
bergeming. Dia sangat gugup, lantas bergegas berdiri dan mengulurkan sebelah
tangannya. Namun, si Dewa Fortuna tidak kunjung meraih sebelah tangan Dewi.
Mereka sama-sama diam, lalu Dewi memutuskan untuk mengayunkan sebelah tangannya
yang menggantung sejak tadi.
“Maaf,
saya buta, jadi ...”
Lelaki
di hadapan Dewi segera meraih sebelah tangannya. Dia tampak menggenggam jemari
Dewi lama, tanpa berkata apapun, lagi dan lagi mereka bergeming bersamaan.
Jemari Dewi tampak mendingin, dia sangat gugup.
“Gue
Dewa Fortuna, eh, sorry nama gue Alka. Hai, Dewi, senang bisa ketemu
lagi,” ucap si Dewa Fortuna, dia lantas memberikan satu kotak cokelat pada
Dewi, “For you.”
Dewi
meraba sampul kotak itu, lantas mengembang senyum.
Dewa
Fortuna—tidak, Alka—membalas senyum itu. Akhirnya, setelah sekian lama
menunggu, pada akhirnya cinta yang menghampiri. Hakikatnya, tidak ada
perjuangan yang sia-sia, selagi masih ada niat baik di dalamnya. Mungkin saja,
cokelat itu bukan cokelat yang sama seperti lima tahun silam, tetapi dia sangat
ingat bahwa kartu ucapan itu adalah rangkaian kata yang dia tulis semalam
suntuk untuk Dewi lima tahun lalu.
Seandainya
Dewi tahu, seperti apapun kondisinya, dulu ataupun sekarang. Alka tetap jatuh
cinta. Mungkin saja ini adalah kali kedua, dia menjatuhkan hatinya pada yang wanita
sama. Dan lewat radio, dia sampaikan kerinduan yang lama terpendam.
***

Komentar
Posting Komentar