Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Catatan Pendek: Sampai Bersua di Pemalang

Gambar
Jakarta, 18 Januari 2017 Masih kurang lebih sepuluh menit lagi, sebelum kereta api yang aku naiki benar-benar melaju meninggalkan Jakarta yang terik juga pelik. Bukan apa-apa, tetapi Jakarta seperti sudah menjadi saksi hadirnya cinta yang lama kunanti pun patahnya hati yang sampai sekarang tak pernah sanggup aku paha mi. Dia, lelaki yang kini tak lagi singgah di pedalaman hati, dulu sosoknya pertama kali aku jumpai di sebuah jalanan kampung halaman. Kami tidak pernah bertegur sapa, karena memang tak pernah saling mengenal. Aku yang besar di pondok pesantren , sedang ia yang tumbuh di perkampungan membuat kami benar-benar menjadi sosok asing ketika tidak sengaja berpapasan di jalan. Entah siapa namanya, batinku dulu. Yang aku ingat, tubuhnya jangkung. Tetapi, entahlah dengan garis wajahnya. Aku tidak benar-benar berani menaikkan muka dan menatap air mukanya. Haram bagiku menatap seseorang yang belum mahram, mengingat aku baru saja lulus pondok pesantren. Tentu, aku be...

Catatan Pendek: Luruh

Gambar
“Mau sampai kapan menunggu sesuatu yang tidak pasti, Nduk?” Suara perempuan itu seketika mengejutkanku yang tengah duduk sembari menatap seberang dari balik jendela. Jemari lembutnya lantas menyentuh puncak kepalaku, mengusap dengan penuh ketulusan. “Kalau boleh tahu, kenapa dulu Bue menolak Mas Arya?” “Dia lelaki yang baik, Nduk. Tetapi, seorang Ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Maaf, ya, bila keputusan Bue kala itu membuatmu terluka.” Kemudian, bibir tua itu mendarat di keningku. Mengecup lembut, penuh kehangatan. Tentu, hatiku seketika menghangat, walau tetap saja belum mampu meredakan luka di pedalaman hati ini. Mungkin intuisi seorang ibu memang benar adanya, keputusanku untuk selesai dengan Mas Arya tidak benar-benar terjadi karena penolakan bertubi-tubi yang bue dan bapak berikan, melainkan karena lelaki itu telah berdusta. Hatinya diam-diam telah membuat ruang yang baru untuk perempuan lain, ketika di hatinya telah ada aku. Dia jahat, karena...

Catatan Pendek: Melepas Pagi

Gambar
Matahari sebentar lagi akan menenggelamkan dirinya ke peraduan, namun sepasang kekasih itu belum juga melenggang pergi dari halaman pemakaman. Entah, apa yang sedang mereka berdua bicarakan dalam diam. Pepohonan, bahkan bunga-bunga kering di halaman tidak mampu menerjemahkan kebisuan di antara mereka, selain hanya menjadi saksi bagi jari-jemari mereka yang bertaut erat, meski entah hati mereka masih seirama atau sebaliknya. *** Dengan langkah tergesa-gesa, seorang gadis mungil menuruni anak tangga tak ubahnya pelari, benar-benar sangat cepat. Dia lantas meraih tas ransel yang sengaja diletakkan di atas sofa oleh bunda. Tas berukuran mungil itu tampak berat dan penuh, dia melirik curiga ke arah bunda, tampaknya ada yang tidak benar di sini. Gegas, dia membuka tasnya dan menumpahkan semua isinya ke atas meja. “Bunda!” pekiknya, kesal. Yang berulah justru terkekeh pelan, seperti memaklumi tabiat gadis mungil di hadapannya yang mudah marah apabila tas ranselnya terisi barang-...