Catatan Pendek: Sampai Bersua di Pemalang
Jakarta, 18 Januari 2017 Masih kurang lebih sepuluh menit lagi, sebelum kereta api yang aku naiki benar-benar melaju meninggalkan Jakarta yang terik juga pelik. Bukan apa-apa, tetapi Jakarta seperti sudah menjadi saksi hadirnya cinta yang lama kunanti pun patahnya hati yang sampai sekarang tak pernah sanggup aku paha mi. Dia, lelaki yang kini tak lagi singgah di pedalaman hati, dulu sosoknya pertama kali aku jumpai di sebuah jalanan kampung halaman. Kami tidak pernah bertegur sapa, karena memang tak pernah saling mengenal. Aku yang besar di pondok pesantren , sedang ia yang tumbuh di perkampungan membuat kami benar-benar menjadi sosok asing ketika tidak sengaja berpapasan di jalan. Entah siapa namanya, batinku dulu. Yang aku ingat, tubuhnya jangkung. Tetapi, entahlah dengan garis wajahnya. Aku tidak benar-benar berani menaikkan muka dan menatap air mukanya. Haram bagiku menatap seseorang yang belum mahram, mengingat aku baru saja lulus pondok pesantren. Tentu, aku be...