Catatan Pendek: Alisa (1)
( 1 )
Telepon dari Ayah
Jakarta,
2010
Di
sebuah gedung sekolah tampak sebagian siswa-siswi mengenakan seragam toga,
lengkap dengan topinya. Beberapa sibuk mengambil gambar dengan telepon pintar,
dan sebagian yang lain tampak menunggu pergelaran acara dengan gugup.
Di
belakang gedung sekolah, tempat yang hampir tidak pernah terjamah oleh
siswa-siswi elit, terdapat sebuah pohon akasia yang tumbuh rindang. Anak angin
betah bercanda gurau di antara ilalang yang semakin meninggi. Tepat di bawah
pohon, seorang gadis duduk di sana, dia tidak peduli walau seragam toganya
kotor. Dia hanya ingin sendiri, barang lima menit saja. Benar-benar sendiri.
“Alisa?”
seseorang memekik seraya melambaikan sebelah tangan.
Gadis
itu menaikkan wajah, dia paham betul jika seseorang di seberang sana sedang
memekikkan namanya hampir berulang-ulang. Namun, dia malas beranjak. Malas
sekali, walau acara sebentar lagi akan dimulai.
“Alisa,”
seseorang di seberang sana kembali berteriak, lemah. Dia lantas berlari seraya
mengangkat seragam toganya setinggi lutut. Namun, dia tetap sulit mengimbangi
diri akibat kain kebaya yang melilit tubuhnya. Berhasil. Akhirnya, tubuh
mungilnya berhasil sampai di bawah pohon akasia, tepat di mana sahabat baiknya
berada; Alisa.
“Diana,”
gadis bernama Alisa mendesah perlahan, “Ayah dan Bunda sepertinya tidak akan
datang,” ucapnya, lantas air matanya menitik.
Diana
mendekat, menepuk bahu Alisa.
“Sa,
kalau Bunda baik-baik saja, dia pasti akan datang. Sabar, ya? Sebaiknya, kamu
doakan Bunda agar lekas bangun dari komanya,” kata Diana, “Oh, ya!” dia tampak
lupa menyampaikan pesan seseorang pada Alisa.
Diana
lantas mengulurkan seikat mawar pada Alisa. Mawar merah. Diana tahu betul jika
mawar merah bisa meredakan kesedihan Alisa di masa-masa seperti ini. Apalagi
mawar itu dari seseorang yang sangat berarti bagi Alisa. Dia adalah Bayu.
Beberapa bulan terakhir Alisa dan Bayu sedang menjalani prosesi ta’aruf-an
yang dibimbing oleh Ustadzah Nurmala. Pertemuan mereka dimulai ketika Alisa
menghadiri seminar Spiritual Al-Qur’an dan Bayu menjadi salah satu pembawa
acara di seminar tersebut.
Lalu
berlanjut dengan saling melempar like di setiap unggahan postingan
mereka via instagram. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk melaksanakan
ta’aruf. Ustadzah Nurmala sendiri ialah guru ngaji Alisa yang kini
menjadi teman baik bunda, selain itu dia juga menjadi pembicara dalam beberapa
seminar islami yang diadakan di kota-kota besar. Karena itu, Bayu mengenal baik
Ustadzah Nurmala. Mereka sering dipertemukan dalam satu panggung yang sama.
“Dari
Kak Bayu, Sa. Dia tadi mampir sebentar. Katanya bunga itu untuk kamu.”
Alisa
menatap seikat bunga mawar itu, lama. Dia lantas menghirupnya dan membaca surat
yang berada di dalamnya. Benar saja, surat itu ditulis oleh Bayu untuk Alisa. Selamat
ulang tahun, Alisa. Semoga Allah senantiasa memudahkan dan melancarkan acara
wisudamu hari ini. Aamiin.
“Ayo,
kita ke aula, Sa,”
***
Alisa
dan Diana duduk berdekatan. Wajar saja, nomor absensi mereka memang berdekatan.
Acara sudah dibuka sejak dua puluh menit yang lalu dengan beberapa kesenian,
seperti tari, paduan suara, dan lain sebagainya.
Namun,
Alisa benar-benar tidak bisa duduk tenang, walau satu ikat mawar itu berada di
pangkuannya. Tiba-tiba saja hatinya menjadi gelisah, pelipisnya bahkan basah,
berkeringat. Beberapa teman mengira Alisa sakit, namun dia selalu menjawab
baik-baik saja.
Telepon
pintar Alisa mendadak berderit. Dia segera merogoh tas selempangnya, dan
terpampang di layar telepon dengan jelas. Sebuah telepon dari ayah, seseorang
yang bahkan tidak pernah bersahabat dengannya. Alisa ragu, namun pada akhirnya
dia memutuskan untuk menjawab telepon tersebut.
“Hal
...”
“Alisa,
bunda ... dia sudah tak tertolong lagi,” ucap ayah dari balik telepon.
Alisa
seketika berdiri, terkejut. Bunga mawar di pangkuannya terjatuh, tidak
dihiraukan. Bibirnya seperti kesemutan, kelu. Dia tidak bisa berkata apapun.
Satu hal yang dia sadari, air matanya telah jatuh sejak di bawah pohon akasia
tadi.
***

Komentar
Posting Komentar