Catatan Pendek: Alisa (4)



( 4 )
Pertemuan Baru




Pukul sembilan pagi. Usai sarapan, Karina bergegas menyiapkan air putih beserta obat untuk Alisa yang terkena demam semalaman. Karina bahkan merasa khawatir untuk beberapa saat, sehingga semalam dia mengecek ke kamar Alisa untuk sekadar memastikan apakah jendela itu tetap tertutup atau kembali dibuka.
“Sa, kata dokter kamu harus banyak istirahat. Jadi, pagi ini jangan pergi ke perpustakaan dulu, ya?” Karina tampak melirik ke arah Alisa, lantas melanjutkan, “Hm, bagaimana kalau sebagai gantinya, aku yang cari referensi untuk tulisan kamu? Tapi, aku nggak janji sekarang, mungkin nanti sepulang kerja.”
Alisa mengangguk. Lantas segera meminum butir-butir obatnya.
Karina sendiri asyik mengemasi barang-barang yang akan dia bawa ke tempat kerja. Sembari merapikan jilbabnya, dia beberapa kali melihat ke arah telepon pintarnya, seperti memastikan sesuatu. Entah, apa itu.
“Oh, ya, Sa. Aku kebetulan punya kenalan yang bisa bantu mempromosikan novel kamu. Dia penyiar radio, namanya Ahsan. Kalau kira-kira kamu bersedia untuk kerja sama dengan dia, bilang saja, nanti aku atur jadwal ketemunya. Bagaimana?” tanya Karina.
Alisa mengangguk.
“Ya, Karina. Saya bersedia. Insya Allah, besok siang di coffee shop dekat tempat kerja kamu, bisa? Nanti kasih kabar saja kalau dia bersedia,” jawab Alisa.
Karina mengangguk, setuju. Dia bahkan langsung mengirimkan kontak Ahsan pada Alisa, sepertinya Karina cukup kerepotan dalam mengatur jadwal untuk orang lain. Jadi, dia memberikan kebebasan bagi Alisa untuk berkenalan langsung dengan penyiar radio itu tanpa bantuan dari Karina.
Dan tampaknya, Alisa tidak pernah mempermasalahkan itu.
***
“Fara-diba?” pekik seorang lelaki bersetelan rapi.
Alisa menaikkan muka. Dia sedikit kikuk dengan nama barunya, Faradiba. Sebenarnya, Faradiba adalah nama pena dari Alisa. Dia sengaja menggunakan nama itu agar tidak banyak yang mengenal dirinya sebagai Alisa. Dia tidak ingin jika ada banyak orang yang mengetahui latar belakangnya. Ini karena ayah, lelaki yang selalu muncul dalam mimpinya. Lelaki yang sangat dia takuti, dan entah mengapa mengingatnya selalu memunculkan luka lama yang tak pernah membaik.
Hal ini juga yang melatarbelakangi keputusannya mengenakan cadar. Dia benar-benar ingin pergi dari jangkauan ayah sejauh dia mampu. Setelah memutuskan untuk menempuh hidup baru di Kudus dan menumpang dengan sahabat baiknya—Karina, dia merasa seperti menjadi orang yang berbeda, namun kenangan tak akan pernah hilang dari ingatan. Ada kalanya, dia merasa khawatir, mungkin saja suatu hari ayah akan berada di sini dan menemukan Alisa cepat atau lambat. Dan dia percaya itu.
“Ya, saya Fara. Faradiba,” jawabnya dalam satu tarikan napas seraya menyatukan dua telapak tangan di depan dada.
Lelaki itu mengikuti gerakan tangan Alisa, lantas memperkenalkan diri, “Saya Ahsan, penyiar radio Genta Buana sekaligus teman baik Karina.”
Mereka kemudian duduk berhadapan. Sembari menikmati secangkir kopi yang mereka pesan, Alisa menunduk malu-malu dan mendengarkan penjelasan Ahsan dengan seksama. Alisa tampak sangat antusias perihal ketertarikan Ahsan pada novel perdana Alisa yang nantinya akan dipromosikan melalui siaran pekan depan.
 “Karina sudah bercerita banyak tentang Fara. Dia juga sempat memberikan novelnya. Dan setelah saya baca, ternyata Karina tak berbohong. Novel Fara benar-benar bagus, dan saya berharap Fara bersedia untuk bergabung bersama kami dalam siaran pekan depan,” kata Ahsan, bersemangat.
Alisa tersenyum, bahagia. Namun, tak ada yang dapat melihat senyum indah yang tersimpan di balik kain penutup wajahnya. Hanya Allah yang tahu sebahagia apa dirinya saat ini. Dia bahkan ingin segera pulang dan memberitahukan pada Karina bahwa pekan depan dia dan Ahsan akan melakukan siaran bersama perihal promosi novel perdananya.
“Ya, tentu. Terima kasih banyak,” kata Alisa.
***
Seorang lelaki tampak tergesa-gesa memasuki coffee shop. Sebelah tangannya asyik menenteng kotak berisikan kucing yang sepertinya baru dia beli dari suatu tempat. Dia bahkan tidak meninggalkan kucing itu di dalam mobil, karena khawatir jika kucing itu akan mati. Dia benar-benar belum tahu cara merawat binatang satu itu, belakangan dia hanya memelihara anjing, dan ini menjadi kali pertama bagi dirinya tinggal satu rumah dengan kucing. Dia harus banyak belajar.
Dia lantas memesan kopi. Sembari menunggu pesanannya siap, dia asyik mengedarkan pandangan ke penjuru ruang coffee shop, dan entah mengapa pandangannya menangkap objek yang tidak asing. Siapa lagi jika bukan perempuan dengan penutup wajah yang sedang duduk di sudut ruangan dengan seorang pria.
Tanpa ragu, dia berjalan mendekat ke arah meja di mana perempuan itu berada. Dia lagi-lagi membawa serta kotak kucing itu tanpa menghiraukan pengunjung yang asyik mengumpati dirinya.
“Alisa?” sapa lelaki itu, ramah.
Alisa menaikkan muka. Dia sangat terkejut, sungguh. Lagi-lagi mereka dipertemukan dalam situasi yang tidak diinginkan. Mengapa belakangan hari ini, dia selalu bertemu dengan tetangga yang bersikap ramah dan menyebalkan itu? Alisa kesal, namun dia dapat menyembunyikan raut wajahnya dengan baik.
“Oh!” lelaki itu berteriak seraya menunjuk sebuah cangkir di hadapan Alisa. “Aku baru tahu kalau kamu suka arabica?” pekiknya.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pendek: Radio

Sulli Eks f(x) Bunuh Diri, ini 3 Prestasinya yang Gugur dari Ingatan Netizen

Catatan Pendek: Kapten Alit