Catatan Pendek: Alisa (5)



( 5 )
Lelaki di Atas Kursi Roda




Bel rumah berdentang berulang kali. Tidak ada satu pun yang membukakan pintu. Alisa sedang pergi ke luar kota selama dua hari, dan Karina sedang sibuk menyiapkan bekal untuk dia bawa ke kantor. Merepotkan. Mengapa jika Alisa tidak ada, rumah seakan kehilangan energi, entahlah. Dia malas berpikir panjang, lantas meninggalkan kotak bekalnya di atas meja makan. Dan bergegas ke pintu utama.
“Pagi?” pekik seorang lelaki tinggi di depan pintu.
Karina terkejut, sungguh. Dia mendapati lelaki itu telah berdiri di sana, setelah dia membuka pintu. Ternyata seorang tetangga, Hanggi namanya. Hanggi tampak riang seperti biasanya, dia menenteng satu kantong yang entah berisi apa pada tangan kanannya dan sebuah kotak berisi kucing anggora pada tangan kirinya.
Karina mengernyit heran. Namun, Hanggi tampak tidak menghiraukan. Dia justru asyik mengedarkan pandangannya pada area ruang tamu Karina, seperti mencari-cari sesuatu, entah itu apa.
“A-lisa? Apa Alisa ada di rumah?” tanya Hanggi. Bola matanya tampak berbinar, menanti jawaban dari Karina.
“Alisa? Dia sedang ke luar kota, ada pekerjaan mendesak,” jawab Karina.
Hanggi mengangguk tanda mengerti. Dia tidak bertanya apa-apa lagi, lantas mengulurkan satu kantong plastik yang sejak tadi dia genggam.
“Untuk Alisa,” katanya setengah bergumam.
Karina menerima saja, tanpa bertanya apa isinya. Sesungguhnya, dia ingin menyudahi pertemuan antar tetangga ini, karena jarum panjang berputar tanpa kompromi. Dan jika pembicaraan ini terus berlanjut, dia tidak akan sempat menyelesaikan bekal makan siangnya, dan dia mungkin saja akan terlambat masuk ke kantor.
“Terima kasih, nanti aku sampaikan,” kata Karina.
“Sejujurnya, aku juga ingin menitipkan Bella pada Alisa. Tapi, karena dia tidak ada dan sepertinya kamu sibuk, jadi aku pikir tidak bisa meninggalkan Bella padamu,” ucapnya seraya menatap sedih ke arah kucing peliharaannya.
“Maaf sekali Hanggi, karena aku tidak bisa membantumu.”
Mereka lantas mengakhiri pertemuan itu segera. Karina kembali ke meja makan, mengatur bekal makan siangnya, sedangkan Hanggi, entah dia akan pergi ke mana. Mungkin saja, dia memutuskan untuk membawa kucing itu ke tempat penitipan hewan.
***
Dia sudah berdiri di sana, lama. Kini tanpa melakukan pergerakan apapun, sementara tubuhnya mendingin dan gemetar. Sungguh, ini bukan karena efek arabica yang dia minum satu jam yang lalu, bukan pula karena udara pemakaman yang begitu dingin. Sama sekali bukan, melainkan karena tiba-tiba saja bola matanya menangkap sesuatu yang mengejutkan.
“Ah-san?” gumamnya, lirih.
Sungguh, bola matanya menangkap lelaki bernama Ahsan yang baru ditemuinya dua hari yang lalu di sebuah coffee shop di Kudus. Namun, entah takdir apa yang mempertemukan mereka di sini, di Jakarta. Di sebuah pemakaman.
Ada yang aneh, pikir Alisa. Mengapa Ahsan berjongkok di samping pusara ibu Alisa? Dia bahkan meletakkan satu ikat bunga mawar di atas pusaranya, mungkinkah selama ini Ahsan yang dia kenal adalah ...
“Bayu?” gumamnya lagi.
Alisa melemas. Dia memegangi keningnya yang berdenyut-denyut. Jika benar dia Bayu, mungkinkah ini bagian dari takdir? Lalu, jika benar, mengapa Allah mempertemukan mereka yang tidak akan pernah dapat bersatu. Alisa meringis, kesakitan.
Dan tanpa sengaja, Ahsan mendengar itu. Mungkin, karena anak angin yang menyampaikan suara kesakitan Alisa pada Ahsan sehingga dia memutuskan untuk beranjak dan menoleh ke belakang. Benar, ada seorang perempuan di kejauhan. Perempuan yang tidak asing dari ingatan. Jika perkiraan Ahsan benar, mungkin perempuan itu adalah Faradiba. Tetapi, mengapa dia ada di sini seorang diri?
***
Entah, apa yang membuat Ahsan bersikukuh membawa Alisa yang dia kenal sebagai Faradiba ke suatu tempat. Dia hanya merasa bahwa Alisa sedang sakit dan butuh istirahat. Karena itu, dia memutuskan untuk membawa Alisa pergi dari pemakaman. Sepanjang perjalanan, Ahsan tidak bertanya apapun pada Alisa, walau rasa penasarannya begitu besar. Lagi pula, Alisa tampak tidak bergairah untuk menanggapi obrolan Ahsan, dia memilih untuk duduk bergeming dan menatap panorama Kota Jakarta dari balik jendela mobil.
Akhirnya, mereka sampai juga di sebuah pelataran rumah. Sebuah rumah yang tampak tidak asing bagi Alisa. Rumah itu, seperti rumahnya dulu. Tiba-tiba saja, Alisa seperti mendapatkan energi baru. Dia bergegas turun, walau sesungguhnya ada ketakutan yang terpenjara di lubuk hati terdalamnya.
Dan tibalah mereka pada suatu ruang. Lagi-lagi, ruang itu tampak tidak asing bagi Alisa, dia sangat mengenal ruang keluarga itu. Dulu, di sanalah amarah dan kesedihan dimulai. Mimpi yang selalu muncul di dalam tidurnya. Mimpi yang selalu menceritakan kematian tragis adik kandungnya, Sofia.
Rasanya, mengenang masa lalu begitu menyakitkan. Seperti kembali mengoyak luka yang telah lama mengering. Alisa merasakan kesakitan yang tiada habisnya. Namun, dia tidak berani menitikkan kesedihan. Ada Ahsan di sana, ada Bayu. Dia takut Ahsan semakin mengkhawatirkan dirinya.
Lalu, Ahsan memintanya menunggu. Mempersilakan Alisa untuk duduk di sofa yang menghadap ke layar televisi. Alisa mengangguk, dia bersedia menunggu walau itu akan memakan waktu yang lama sekali pun, namun hatinya yang semakin tidak bisa menahan kesakitan itu, sungguh.
Tidak lama kemudian, Ahsan kembali. Dengan membawa seseorang yang duduk di atas kursi roda. Dia mendorong kursi roda itu perlahan, mendekati Alisa yang sedari tadi sedang menerka-nerka, siapakah lelaki tua di atas kursi roda itu. Kali ini, Alisa tidak ingin menduga jika itu adalah ayah, pemikiran itu tidak ingin menambah luka yang semakin dalam. Menambah rasa bersalahnya. Namun, praduga yang dia tolak benar adanya. Lelaki tua di atas kursi roda itu adalah ayah. Seseorang yang membuat luka itu pernah ada.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pendek: Radio

Sulli Eks f(x) Bunuh Diri, ini 3 Prestasinya yang Gugur dari Ingatan Netizen

Catatan Pendek: Kapten Alit