Postingan

Catatan Pendek: Kehilangan

Gambar
Aku pernah mengenal seorang wanita dalam hidupku. Dia berbeda dari wanita-wanita lain yang pernah singgah di pedalaman hati. Bagaimana tidak? Wanita satu itu tak ubahnya panorama indah di kala senja, selain menghangatkan pun dapat membuat siapa saja enggan beranjak pergi. Seperti aku kala itu. Seperti tidak pernah hilang dari ingatan, aku seakan ingat warna baju yang dia pakai kala itu serta aroma tubuhnya yang wangi bagaikan ladang dendelion. Benar, kala itu dia datang di pesta ulang tahunku. Meramaikan sebuah pesta kecil di halaman rumah baru. Dia tidak hanya singgah lalu pergi begitu saja, dulu kami sempat menghabiskan waktu berdua di dapur untuk membuat kue ulang tahun. Lagi dan lagi, aku seperti bisa mengingat setiap rasa dari gigitan kue buatannya. Manis dan lembut, lidahku seperti kembali dimainkan oleh rasa yang tidak pernah hilang itu. Aku berhenti berjalan barang sebentar, lamunan tentang dia pun sekelebat pergi begitu saja. Aku melihat sebuah toko roti yang menyajik...

Catatan Pendek: Kapten Alit

Gambar
Namaku Alit. Hanya Alit tanpa embel-embel apapun di belakangnya. Sekali lagi, benar-benar hanya Alit yang terdiri dari huruf A, L, I, dan T. Ketika aku tanyakan pada ibu perihal namaku yang terlalu singkat, beliau hanya menjawab dengan senyuman manis, lalu enggan memberikan jawaban lain yang setidaknya dapat membuat aku merasa lega ataupun berbesar hati. “Alit itu artinya kecil. Masa kau tidak tahu?” seru temanku. Aku berkacak pinggang, kesal. Masa, sih, ibu memberikan aku nama sejelek itu? Hanya berarti kecil, yang mana tidak memiliki arti spesial. Memang, bila dibandingkan dengan saudara-saudaraku yang lain, aku memiliki postur tubuh paling kecil. Kecil juga bukan berarti gesit, realitasnya aku selalu kalah cepat dalam hal lari maupun terbang dari teman-teman sejawatku yang lain. Lalu, aku bertanya lagi pada ibu. “Bu, benarkah Alit artinya kecil?” tanyaku. “Memang benar, Sayang. Tetapi, nama Alit tidak selalu bermakna kecil. Kau itu anak yang pandai, ingatkah dulu sia...

Catatan Pendek: Isyarat Putri Geledek

Gambar
1998 Putri Geledek. Di sinilah aku tinggal; langit. Aku hadir di kala langit mulai menggelap dan awan seperti tidak lagi mampu menampung miliaran tetes air. Aku diciptakan sebagai pertanda akan jatuhnya air langit ke bumi, menjamah rerumputan dan pepohonan rindang di sana, juga rumah-rumah kayu dan bocah-bocah kecil yang gemar bermain bola di tengah halaman. Awal ceritaku sama sekali tidak menarik untuk diikuti, tentu saja sebelum aku mengenal manusia bumi bernama Asri. Dia adalah sosok manusia yang baik, senang membantu banyak orang, ramah, dan juga pandai merawat tanaman. Suatu sore ketika langit benar-benar menghitam, aku memberi pertanda pada manusia bumi, bahwa sebentar lagi miliaran air langit akan jatuh. Pada hari itulah aku bertemu Asri, dia berjongkok di bawah pohon mangga seraya menutup kedua telinganya. Ketakutan. Samar-samar, aku mendapati air matanya menitik bersamaan dengan derasnya air langit yang membumi. Bahunya bergetar hebat, sedang aku terdiam panjang. ...

Catatan Pendek: Es Cendol

Gambar
Satu bulan yang lalu, di kampung kedatangan warga baru yang kebetulan mengontrak tidak jauh dari rumah kami. Mereka adalah bujang-bujang lapuk penjual es cendol keliling dari luar kota yang sengaja mengadu nasib di sini. Seperti biasa, emak segera membuat kue bolu dan mengantarnya ke kontrakan sebagai tanda salam santun terhadap tetangga baru. Namun, siang ini berbeda. Perubahan cuaca yang tidak menentu dari hujan ke panas kerap kali membuat kami betah berlama-lama duduk di pelataran rumah yang rindang sembari menyeruput segarnya es cendol. Tidak hanya es cendol yang menjadi hidangan pelepas lelah siang ini, tetapi ada juga pisang goreng yang sengaja emak buat sebagai teman minum. “Neng?” Bapak membuka suara setelah sesuap ketimus mendarat di mulutnya. Aku menaikkan muka, serius. “Kenal dengan Juki, lelaki dari kampung sebelah itu?” lanjut bapak. Aku mengangguk santai, siapa gadis kampung ini yang tidak mengenal Juki? Lelaki itu adalah anak saudagar kaya dari kampung s...

Catatan Pendek: Definisi Sendiri

Gambar
Aku masih sendiri. Dan terkadang definisi dari kata sendiri itu membuatku tampak kecil di antara jutaan manusia yang sudah memiliki pasangan atau teman hidup. Padahal sendiri tidak selamanya buruk, aku bisa fokus bekerja dan menggapai mimpi tanpa terganggu dengan prioritas membahagiakan orang lain. Namun, realitas yang kuhadapi berbanding terbalik dengan definisi sendiri yang aku ciptakan. Bapak, mamak, bahkan mbak tidak pernah sependapat bahwa sendiri dapat menghadirkan bahagia. Benar saja, beberapa pekan yang lalu, mbak tiba-tiba berbaik hati mengajakku jalan. Padahal sebelumnya setiap kali aku pulang dari Bandung, dia selalu mengabaikanku dan sibuk dengan aktivitas pribadi; pergi dengan teman-teman dan pacar. Tetapi kali ini berbeda, dia benar-benar mengajakku pergi ke suatu tempat yang disebut coffee shop. Aku mendesah, hanya sebuah coffee shop kecil di sudut kota, dan sepi. Entah, apa yang sedang kami lakukan di tempat ini, selain duduk berhadapan di meja bundar dengan...

Catatan Pendek: Sebuah Permohonan

Gambar
Aku pernah sekali menonton siaran televisi bertajuk Drama Korea. Entah, apa yang menarik dari siaran televisi itu. Tetapi, mama sangat suka. Dia bahkan rela menghabiskan waktu istirahatnya hanya untuk menonton siaran tersebut hingga usai. Menurutku tidak ada yang menarik selain tokoh-tokohnya yang sedikit aneh. Sebagian besar tokoh-tokoh yang hampir sekarat selalu mengucapkan kalimat yang sama di akhir cerita, “Suatu hari nanti ketika aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi pohon” atau “Burung”. Aku kebingungan, sedangkan mama menangis tersedu-sedu. Lalu, apa bagusnya menjadi pohon ataupun burung? Sepertinya menjadi pohon itu membosankan, hanya berdiri di tempat yang sama sepanjang hari tanpa bisa pergi ke mana pun. Menjadi burung pun sama, aktivitasnya hanya terbang, memang kedua lengan mereka tidak lelah? Tetapi, terkadang ucapan tokoh-tokoh tersebut ada baiknya. Mereka ingin menjadi pohon ataupun burung bukan karena mereka tidak suka menjadi manusia. Tentu saja, mereka...